Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau
Kepala Bidang Budi Daya, Budiono. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau saat ini tengah mengembangkan pakan mandiri berbahan lokal sebagai upaya mengurangi beban biaya produksi para pembudidaya ikan di Kampung Batu-Batu.
Program tersebut menjadi percontohan dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah diperoleh dan memiliki harga relatif murah. Langkah ini juga diharapkan dapat membantu pembudidaya mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrikan yang harganya lebih tinggi.
Kepala Diskan Berau Abdul Majid melalui Kepala Bidang Budi Daya, Budiono, mengatakan pengembangan pakan mandiri merupakan bagian dari strategi untuk mendorong kemandirian pembudidaya sekaligus mendukung peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya di kawasan lingkar tambang.
"Pakan mandiri itu sebagai percontohan, dengan menggunakan bahan-bahan lokal yang murah meriah," ujar Budiono.
Ia pun menjelaskan dalam pengembangannya, Diskan memanfaatkan tiga bahan utama, yakni tepung ikan atau ikan reject, dedak dan tepung tapioka sebagai perekat.
"Kami sementara mengembangkan tiga bahan saja. Pertama dari tepung ikan atau reject yang kami ambil dari Tanjung Batu, harga sekitar Rp3.000 sampai Rp4.000 per kilo, kemudian dedak dan tepung tapioka sebagai perekatnya," terangnya.
Dengan kombinasi bahan tersebut, biaya operasional pembuatan pakan diperkirakan hanya sekitar Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pakan komersial yang di pasaran mencapai sekitar Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram.
Namun, dirinya menegaskan bahwa pakan berbahan lokal tersebut masih dalam tahap uji coba. Pengujian dilakukan untuk memastikan efektivitas pakan serta kandungan gizi sebelum nantinya diterapkan secara lebih luas.
"Jadi biaya operasional secara keseluruhan per kilo itu Rp6.000 sampai Rp7.000, tapi ini masih tahap uji coba," katanya.
Ia menyampaikan bahwa pengembangan pakan mandiri tersebut dilakukan melalui kolaborasi antara Diskan, pihak swasta dan pemerintah kampung. Diskan bersama pihak swasta akan membantu penyediaan benih serta memberikan pelatihan kepada pembudidaya mengenai pembuatan pakan.
Sementara itu, pemerintah kampung melalui Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) diarahkan untuk mengelola pemasaran hasil budi daya. Destinasi wisata yang ada di sekitar Kampung Batu-Batu juga akan dimanfaatkan untuk memperkuat pemasaran tersebut.
"Benihnya kami atau swasta yang bantu, pakannya nanti kami ajari cara membuatnya, pemasarannya dari kampung melalui BUMK. Nanti tempat-tempat wisata yang ada itu dijadikan sebagai penguatan untuk pemasarannya," tuturnya.
Terakhir, Budiono juga berharap nantinya para pembudidaya dapat membuat pakan sendiri dengan memanfaatkan bahan lokal, sehingga biaya produksi dapat ditekan dan kegiatan budi daya menjadi lebih mandiri.
"Jadi nanti jika uji coba ini berhasil akan teknologi pembuatan pakan mandiri ini akan langsung ditransfer kepada para pembudidaya ikan supaya mereka tidak lagi bergantung pada pakan pabrikan yang memiliki harga tinggi," tandasnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau

Kepala Bidang Budi Daya, Budiono. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau saat ini tengah mengembangkan pakan mandiri berbahan lokal sebagai upaya mengurangi beban biaya produksi para pembudidaya ikan di Kampung Batu-Batu.
Program tersebut menjadi percontohan dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah diperoleh dan memiliki harga relatif murah. Langkah ini juga diharapkan dapat membantu pembudidaya mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrikan yang harganya lebih tinggi.
Kepala Diskan Berau Abdul Majid melalui Kepala Bidang Budi Daya, Budiono, mengatakan pengembangan pakan mandiri merupakan bagian dari strategi untuk mendorong kemandirian pembudidaya sekaligus mendukung peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya di kawasan lingkar tambang.
"Pakan mandiri itu sebagai percontohan, dengan menggunakan bahan-bahan lokal yang murah meriah," ujar Budiono.
Ia pun menjelaskan dalam pengembangannya, Diskan memanfaatkan tiga bahan utama, yakni tepung ikan atau ikan reject, dedak dan tepung tapioka sebagai perekat.
"Kami sementara mengembangkan tiga bahan saja. Pertama dari tepung ikan atau reject yang kami ambil dari Tanjung Batu, harga sekitar Rp3.000 sampai Rp4.000 per kilo, kemudian dedak dan tepung tapioka sebagai perekatnya," terangnya.
Dengan kombinasi bahan tersebut, biaya operasional pembuatan pakan diperkirakan hanya sekitar Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pakan komersial yang di pasaran mencapai sekitar Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram.
Namun, dirinya menegaskan bahwa pakan berbahan lokal tersebut masih dalam tahap uji coba. Pengujian dilakukan untuk memastikan efektivitas pakan serta kandungan gizi sebelum nantinya diterapkan secara lebih luas.
"Jadi biaya operasional secara keseluruhan per kilo itu Rp6.000 sampai Rp7.000, tapi ini masih tahap uji coba," katanya.
Ia menyampaikan bahwa pengembangan pakan mandiri tersebut dilakukan melalui kolaborasi antara Diskan, pihak swasta dan pemerintah kampung. Diskan bersama pihak swasta akan membantu penyediaan benih serta memberikan pelatihan kepada pembudidaya mengenai pembuatan pakan.
Sementara itu, pemerintah kampung melalui Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) diarahkan untuk mengelola pemasaran hasil budi daya. Destinasi wisata yang ada di sekitar Kampung Batu-Batu juga akan dimanfaatkan untuk memperkuat pemasaran tersebut.
"Benihnya kami atau swasta yang bantu, pakannya nanti kami ajari cara membuatnya, pemasarannya dari kampung melalui BUMK. Nanti tempat-tempat wisata yang ada itu dijadikan sebagai penguatan untuk pemasarannya," tuturnya.
Terakhir, Budiono juga berharap nantinya para pembudidaya dapat membuat pakan sendiri dengan memanfaatkan bahan lokal, sehingga biaya produksi dapat ditekan dan kegiatan budi daya menjadi lebih mandiri.
"Jadi nanti jika uji coba ini berhasil akan teknologi pembuatan pakan mandiri ini akan langsung ditransfer kepada para pembudidaya ikan supaya mereka tidak lagi bergantung pada pakan pabrikan yang memiliki harga tinggi," tandasnya. (Adv)
(Sf/Rs)