Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Kerajinan Rotan Teluk Sumbang Dilirik Pasar Global, Rantai Pasok Diperkuat

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    21 September 2026 pukul 20:11 WITA

    Para perajin dan beberapa produk kerajinan rotan Kampung Teluk Sumbang, Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau. (Foto: DPMK Berau)

    Tanjung Redeb - Kerajinan rotan Kampung Teluk Sumbang, Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, mulai merambah pasar internasional. Berbagai produk rotan pun telah diekspor ke Belanda, namun keberlanjutan bahan bakunya kini menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau.

    Kepala DPMK Berau, Tenteram Rahayu, mengatakan capaian tersebut menjadi peluang bagi pengrajin lokal untuk memperluas pasar. Karena itu, ketersediaan bahan baku perlu dipastikan agar produksi tidak terganggu.

    "Yang perlu kita perkuat sekarang adalah kepastian bahan bakunya. Kita tidak bisa memaksakan seluruh kampung untuk melakukan hilirisasi. Harus ada pembagian peran yang jelas agar rantai pasok tidak terputus," ujar Tenteram.

    Oleh karena itu, ia menyampaikan bahwa DPMK Berau saat ini menyusun pemetaan wilayah untuk membagi fungsi antarkampung. Tidak semua kampung diarahkan mengolah produk hingga tahap akhir. Sebagian menjadi pusat hilirisasi, sedangkan kampung lainnya difokuskan sebagai pemasok bahan baku rotan.

    "Kampung Teluk Sumbang jadi salah satu wilayah yang menjalankan proses hilirisasi. Beragam produk dikembangkan masyarakat, mulai dari perabotan hingga produk dekorasi," katanya.

    Sementara itu, dirinya mengatakan sejumlah kampung di Kecamatan Kelay dan Segah pun diarahkan untuk mendukung kebutuhan bahan baku. Skema tersebut dinilai dapat menjaga kesinambungan produksi sekaligus mengurangi risiko kekurangan bahan baku.

    "Ada beberapa kampung yang memang hilirisasi, karena tidak bisa juga dipaksakan semua untuk sampai ke hilirnya. Jadi itu lebih menjamin keberlanjutan kerajinan kita dengan menyediakan beberapa kampung sebagai supplier bahan baku," terangnya.

    Ia menegaskan bahwa pasokan menjadi sangat penting ketika pengrajin telah memiliki kerja sama dengan pembeli dari luar daerah maupun luar negeri. Sebab, keterlambatan bahan baku dapat berdampak pada pemenuhan pesanan dan kontrak yang telah disepakati.

    "Ketika sudah ada perjanjian kerja sama atau kontrak dengan pihak luar, pasokan bahan baku tidak boleh terganggu. Sekali suplai terhenti, hal itu bisa memutus kontrak yang sudah disepakati. Ini yang sangat kita jaga," ujarnya.

    Selain itu, Tenteram juga mendorong para pengrajin untuk dapat terus melakukan inovasi-inovasi. Penggabungan rotan dengan material lain, seperti kulit, menjadi salah satu upaya untuk menghasilkan produk yang lebih variatif dan memiliki nilai jual lebih tinggi.

    "Dengan penguatan dari sisi bahan baku dan inovasi produk, kami berharap kerajinan rotan Teluk Sumbang ini bisa mempertahankan pasar yang telah diraih sekaligus membuka peluang menjangkau konsumen di negara lainnya," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Kerajinan Rotan Teluk Sumbang Dilirik Pasar Global, Rantai Pasok Diperkuat

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    21 September 2026 pukul 20:11 WITA

    Para perajin dan beberapa produk kerajinan rotan Kampung Teluk Sumbang, Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau. (Foto: DPMK Berau)

    Tanjung Redeb - Kerajinan rotan Kampung Teluk Sumbang, Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, mulai merambah pasar internasional. Berbagai produk rotan pun telah diekspor ke Belanda, namun keberlanjutan bahan bakunya kini menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau.

    Kepala DPMK Berau, Tenteram Rahayu, mengatakan capaian tersebut menjadi peluang bagi pengrajin lokal untuk memperluas pasar. Karena itu, ketersediaan bahan baku perlu dipastikan agar produksi tidak terganggu.

    "Yang perlu kita perkuat sekarang adalah kepastian bahan bakunya. Kita tidak bisa memaksakan seluruh kampung untuk melakukan hilirisasi. Harus ada pembagian peran yang jelas agar rantai pasok tidak terputus," ujar Tenteram.

    Oleh karena itu, ia menyampaikan bahwa DPMK Berau saat ini menyusun pemetaan wilayah untuk membagi fungsi antarkampung. Tidak semua kampung diarahkan mengolah produk hingga tahap akhir. Sebagian menjadi pusat hilirisasi, sedangkan kampung lainnya difokuskan sebagai pemasok bahan baku rotan.

    "Kampung Teluk Sumbang jadi salah satu wilayah yang menjalankan proses hilirisasi. Beragam produk dikembangkan masyarakat, mulai dari perabotan hingga produk dekorasi," katanya.

    Sementara itu, dirinya mengatakan sejumlah kampung di Kecamatan Kelay dan Segah pun diarahkan untuk mendukung kebutuhan bahan baku. Skema tersebut dinilai dapat menjaga kesinambungan produksi sekaligus mengurangi risiko kekurangan bahan baku.

    "Ada beberapa kampung yang memang hilirisasi, karena tidak bisa juga dipaksakan semua untuk sampai ke hilirnya. Jadi itu lebih menjamin keberlanjutan kerajinan kita dengan menyediakan beberapa kampung sebagai supplier bahan baku," terangnya.

    Ia menegaskan bahwa pasokan menjadi sangat penting ketika pengrajin telah memiliki kerja sama dengan pembeli dari luar daerah maupun luar negeri. Sebab, keterlambatan bahan baku dapat berdampak pada pemenuhan pesanan dan kontrak yang telah disepakati.

    "Ketika sudah ada perjanjian kerja sama atau kontrak dengan pihak luar, pasokan bahan baku tidak boleh terganggu. Sekali suplai terhenti, hal itu bisa memutus kontrak yang sudah disepakati. Ini yang sangat kita jaga," ujarnya.

    Selain itu, Tenteram juga mendorong para pengrajin untuk dapat terus melakukan inovasi-inovasi. Penggabungan rotan dengan material lain, seperti kulit, menjadi salah satu upaya untuk menghasilkan produk yang lebih variatif dan memiliki nilai jual lebih tinggi.

    "Dengan penguatan dari sisi bahan baku dan inovasi produk, kami berharap kerajinan rotan Teluk Sumbang ini bisa mempertahankan pasar yang telah diraih sekaligus membuka peluang menjangkau konsumen di negara lainnya," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)