Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau
Salah satu tambak di Berau. (Foto: Baiq Eliana/ seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau terus memantau kondisi perairan budidaya selama musim kemarau. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi perubahan kualitas air yang dapat memengaruhi aktivitas budidaya, khususnya akibat meningkatnya kadar garam.
Kepala Diskan Berau Abdul Majid melalui Kepala Bidang Budidaya, Budiono mengatakan, penurunan curah hujan memang mulai memberikan pengaruh terhadap salinitas pada tambak air payau.
Berdasarkan hasil pengecekan terakhir, salinitas yang biasanya berada pada kisaran 5 hingga 10 ppm kini meningkat menjadi sekitar 15 hingga 20 ppm.
Ia menyebut, meski kadar garam mengalami peningkatan, kondisi tersebut belum mengganggu kondisi perairan budidaya, salah satunya pertumbuhan udang windu. Komoditas tersebut masih mampu bertahan karena memiliki toleransi terhadap salinitas hingga 20-25 ppm.
"Untuk udang windu masih masuk tahap optimal. Toleransi salinitasnya bisa mencapai 20 sampai 25 ppm, jadi secara budidaya masih bisa berkembang dengan bagus dan belum memerlukan tindakan khusus," ujar Budiono.
Sementara itu, dirinya juga menyampaikan bahwa pemantauan dilakukan pada wilayah budidaya air tawar untuk memastikan tidak terjadi intrusi air asin. Pemeriksaan dilakukan di lima titik, yakni Sungai Berau, Kelay, Segah, Gurimbang dan Samburakat.
"Dari hasil pemantauan, salinitas di seluruh titik itu masih tercatat nol. Kondisi parameter lainnya, seperti oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) dan tingkat keasaman (pH), juga masih berada dalam kondisi baik," katanya.
Ia pun mengatakan, pemantauan kualitas air akan tetap dilakukan selama musim kemarau, mengingat kondisi cuaca dapat berubah dan berpengaruh terhadap karakteristik perairan. Menurutnya, langkah tersebut penting agar potensi perubahan kualitas air dapat diketahui lebih awal dan segera ditindaklanjuti jika mulai memberikan dampak terhadap kegiatan budidaya.
"Pemantauan ini tetap kami lakukan untuk melihat perkembangan kondisi perairan. Kalau ada perubahan yang cukup signifikan, pasti akan segera kami tindak lanjuti agar tidak sampai mengganggu kegiatan budidaya masyarakat," terangnya.
Oleh karena itu, dengan hasil tersebut, Diskan Berau memastikan kondisi perairan budidaya masih berada pada ambang aman. Meski demikian, Budiono meminta masyarakat pembudidaya untuk tetap beraktivitas seperti biasa, sembari menjaga dan memantau kualitas air secara berkala.
"Untuk kondisi saat ini masih aman. Masyarakat tidak perlu khawatir dan tetap bisa menjalankan kegiatan budidaya seperti biasa. Kami juga terus melakukan pemantauan agar perubahan kualitas air bisa diketahui sejak awal," pungkas Budiono. (Adv)
(Sf/Lo)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau

Salah satu tambak di Berau. (Foto: Baiq Eliana/ seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau terus memantau kondisi perairan budidaya selama musim kemarau. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi perubahan kualitas air yang dapat memengaruhi aktivitas budidaya, khususnya akibat meningkatnya kadar garam.
Kepala Diskan Berau Abdul Majid melalui Kepala Bidang Budidaya, Budiono mengatakan, penurunan curah hujan memang mulai memberikan pengaruh terhadap salinitas pada tambak air payau.
Berdasarkan hasil pengecekan terakhir, salinitas yang biasanya berada pada kisaran 5 hingga 10 ppm kini meningkat menjadi sekitar 15 hingga 20 ppm.
Ia menyebut, meski kadar garam mengalami peningkatan, kondisi tersebut belum mengganggu kondisi perairan budidaya, salah satunya pertumbuhan udang windu. Komoditas tersebut masih mampu bertahan karena memiliki toleransi terhadap salinitas hingga 20-25 ppm.
"Untuk udang windu masih masuk tahap optimal. Toleransi salinitasnya bisa mencapai 20 sampai 25 ppm, jadi secara budidaya masih bisa berkembang dengan bagus dan belum memerlukan tindakan khusus," ujar Budiono.
Sementara itu, dirinya juga menyampaikan bahwa pemantauan dilakukan pada wilayah budidaya air tawar untuk memastikan tidak terjadi intrusi air asin. Pemeriksaan dilakukan di lima titik, yakni Sungai Berau, Kelay, Segah, Gurimbang dan Samburakat.
"Dari hasil pemantauan, salinitas di seluruh titik itu masih tercatat nol. Kondisi parameter lainnya, seperti oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) dan tingkat keasaman (pH), juga masih berada dalam kondisi baik," katanya.
Ia pun mengatakan, pemantauan kualitas air akan tetap dilakukan selama musim kemarau, mengingat kondisi cuaca dapat berubah dan berpengaruh terhadap karakteristik perairan. Menurutnya, langkah tersebut penting agar potensi perubahan kualitas air dapat diketahui lebih awal dan segera ditindaklanjuti jika mulai memberikan dampak terhadap kegiatan budidaya.
"Pemantauan ini tetap kami lakukan untuk melihat perkembangan kondisi perairan. Kalau ada perubahan yang cukup signifikan, pasti akan segera kami tindak lanjuti agar tidak sampai mengganggu kegiatan budidaya masyarakat," terangnya.
Oleh karena itu, dengan hasil tersebut, Diskan Berau memastikan kondisi perairan budidaya masih berada pada ambang aman. Meski demikian, Budiono meminta masyarakat pembudidaya untuk tetap beraktivitas seperti biasa, sembari menjaga dan memantau kualitas air secara berkala.
"Untuk kondisi saat ini masih aman. Masyarakat tidak perlu khawatir dan tetap bisa menjalankan kegiatan budidaya seperti biasa. Kami juga terus melakukan pemantauan agar perubahan kualitas air bisa diketahui sejak awal," pungkas Budiono. (Adv)
(Sf/Lo)