Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau
Udang Galah. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau terus menyiapkan langkah untuk mengoptimalkan potensi udang galah yang melimpah di perairan Sungai Berau. Upaya tersebut dilakukan melalui rencana kajian stok sumber daya perikanan dan pengembangan alat tangkap ramah lingkungan guna mendukung pengelolaan yang berkelanjutan.
Kepala Diskan Berau melalui Sekretaris Diskan Berau, Yunda Zuliarsih, mengatakan pemetaan stok menjadi langkah awal yang penting untuk mengetahui potensi sumber daya perikanan secara akurat. Kajian tersebut nantinya tidak hanya mencakup udang galah, tetapi juga berbagai jenis ikan yang menjadi komoditas unggulan di Berau.
"Ke depannya memang perlu dilakukan pemetaan. Ada wacana dari Dinas Perikanan untuk melakukan kajian stok keberadaan ikan, bukan hanya udang galah. Dengan data itu, pengelolaan sumber daya perikanan akan lebih terarah," kata Yunda.
Ia menjelaskan, udang galah memiliki nilai ekonomi tinggi serta permintaan pasar yang terus meningkat. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan data dan metode penangkapan yang masih kurang efektif.
Dirinya menyebut sebagian besar nelayan masih menggunakan pancing untuk menangkap udang galah. Selain hasilnya relatif sedikit, ukuran udang yang diperoleh juga tidak seragam. Di sisi lain, praktik penangkapan menggunakan alat setrum masih menjadi ancaman bagi kelestarian ekosistem perairan.
"Kalau memancing hasilnya sedikit dan tidak seragam. Sedangkan penggunaan setrum sangat berbahaya karena semua biota ikut terkena, termasuk anakan udang yang akhirnya mati. Itu sangat berbahaya karena bisa mengganggu keberlanjutan sumber daya perikanan," ujarnya.
Oleh karena itu, Diskan Berau mendorong adanya inovasi alat tangkap yang lebih ramah lingkungan agar hasil tangkapan dapat meningkat tanpa merusak habitat udang galah. Penggunaan jaring atau alat tangkap khusus dinilai menjadi salah satu alternatif yang dapat diterapkan.
"Kita ingin ada alat tangkap yang ramah lingkungan, apakah jaring atau metode lainnya, sehingga sekali menarik bisa mendapatkan hasil yang lebih banyak dan ukurannya seragam. Dengan cara itu, potensi udang galah bisa dimanfaatkan secara optimal sekaligus tetap menjaga kelestarian lingkungan," ujarnya.
Yunda berharap kajian stok dan inovasi alat tangkap nantinya dapat segera direalisasikan sehingga udang galah mampu menjadi komoditas unggulan baru yang memberikan nilai tambah bagi sektor perikanan serta meningkatkan kesejahteraan nelayan di Kabupaten Berau.
"Kalau kajian stok dan inovasi ini bisa berjalan, udang galah memiliki peluang besar menjadi komoditas unggulan yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan Berau," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau

Udang Galah. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau terus menyiapkan langkah untuk mengoptimalkan potensi udang galah yang melimpah di perairan Sungai Berau. Upaya tersebut dilakukan melalui rencana kajian stok sumber daya perikanan dan pengembangan alat tangkap ramah lingkungan guna mendukung pengelolaan yang berkelanjutan.
Kepala Diskan Berau melalui Sekretaris Diskan Berau, Yunda Zuliarsih, mengatakan pemetaan stok menjadi langkah awal yang penting untuk mengetahui potensi sumber daya perikanan secara akurat. Kajian tersebut nantinya tidak hanya mencakup udang galah, tetapi juga berbagai jenis ikan yang menjadi komoditas unggulan di Berau.
"Ke depannya memang perlu dilakukan pemetaan. Ada wacana dari Dinas Perikanan untuk melakukan kajian stok keberadaan ikan, bukan hanya udang galah. Dengan data itu, pengelolaan sumber daya perikanan akan lebih terarah," kata Yunda.
Ia menjelaskan, udang galah memiliki nilai ekonomi tinggi serta permintaan pasar yang terus meningkat. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan data dan metode penangkapan yang masih kurang efektif.
Dirinya menyebut sebagian besar nelayan masih menggunakan pancing untuk menangkap udang galah. Selain hasilnya relatif sedikit, ukuran udang yang diperoleh juga tidak seragam. Di sisi lain, praktik penangkapan menggunakan alat setrum masih menjadi ancaman bagi kelestarian ekosistem perairan.
"Kalau memancing hasilnya sedikit dan tidak seragam. Sedangkan penggunaan setrum sangat berbahaya karena semua biota ikut terkena, termasuk anakan udang yang akhirnya mati. Itu sangat berbahaya karena bisa mengganggu keberlanjutan sumber daya perikanan," ujarnya.
Oleh karena itu, Diskan Berau mendorong adanya inovasi alat tangkap yang lebih ramah lingkungan agar hasil tangkapan dapat meningkat tanpa merusak habitat udang galah. Penggunaan jaring atau alat tangkap khusus dinilai menjadi salah satu alternatif yang dapat diterapkan.
"Kita ingin ada alat tangkap yang ramah lingkungan, apakah jaring atau metode lainnya, sehingga sekali menarik bisa mendapatkan hasil yang lebih banyak dan ukurannya seragam. Dengan cara itu, potensi udang galah bisa dimanfaatkan secara optimal sekaligus tetap menjaga kelestarian lingkungan," ujarnya.
Yunda berharap kajian stok dan inovasi alat tangkap nantinya dapat segera direalisasikan sehingga udang galah mampu menjadi komoditas unggulan baru yang memberikan nilai tambah bagi sektor perikanan serta meningkatkan kesejahteraan nelayan di Kabupaten Berau.
"Kalau kajian stok dan inovasi ini bisa berjalan, udang galah memiliki peluang besar menjadi komoditas unggulan yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan Berau," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)