Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Kebutuhan Tinggi, Hatchery Udang Windu Tanjung Batu Akan Dikembangkan

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    11 Juni 2026 pukul 09:54 WITA

    Kepala Diskan Berau, Abdul Majid. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Tingginya kebutuhan benur udang windu di Kabupaten Berau mendorong rencana pengembangan hatchery di SMK 3 Perikanan Tanjung Batu. Saat ini, kapasitas produksi hatchery tersebut masih belum mampu memenuhi permintaan petambak yang terus meningkat setiap tahunnya.

    Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Berau, Abdul Majid mengatakan, kebutuhan benur udang windu di Berau diperkirakan mencapai 10 hingga 20 juta ekor per tahun. Namun kemampuan produksi hatchery di Tanjung Batu baru sekitar 2 juta ekor per tahun.

    "Ternyata permintaannya melonjak sampai 10 sampai 20 juta per tahun. Sementara kemampuan produksi kemarin baru sekitar 2 juta," ujar Majid.

    Ia mengatakan, hatchery yang dikembangkan melalui kerja sama Dinas Perikanan Berau, YKAN, dan SMK 3 Perikanan Tanjung Batu itu mulai mendapat respons positif dari para petambak karena kualitas bibit yang dihasilkan dinilai lebih baik dibanding pasokan dari luar daerah.

    "Alhamdulillah hatchery di Tanjung Batu diminati petani tambak kita karena tingkat mortalitasnya lebih rendah," tambahnya.

    Dirinya menjelaskan, tingginya tingkat kematian bibit dari luar daerah dipengaruhi proses pengiriman yang cukup jauh. Sementara bibit lokal lebih mudah beradaptasi saat ditebar di tambak.

    "Ternyata kualitas bibit dari Tanjung Batu lebih bagus daripada luar daerah. Karena kalau dari luar daerah seperti Tarakan tingkat mortalitasnya bisa mencapai 50 sampai 70 persen," katanya.

    Oleh karena itu, melihat tingginya minat petambak, pemerintah daerah berencana mendorong pengembangan hatchery dengan menambah fasilitas peneluran dan kapasitas produksi.

    "Insyaallah akan dikembangkan lagi. Kemungkinan nanti ditambah lagi tempat penelurannya karena kapasitasnya masih kurang," ujarnya.

    Ia menyebut, lahan di kawasan SMK 3 Perikanan Tanjung Batu masih memungkinkan untuk pengembangan hatchery ke depan. Namun pengembangannya tetap akan dikoordinasikan bersama pemerintah provinsi.

    "Karena kewenangannya ada di provinsi, nanti kita akan koordinasi lagi," jelasnya.

    Majid pun menyampaikan untuk sementara, produksi benur lokal masih diprioritaskan memenuhi kebutuhan petambak di wilayah Berau sebelum dipasarkan ke luar daerah.

    "Hatchery udang windu di Berau ini baru ada di Tanjung Batu saja. Jadi untuk ekspor keluar kita juga belum bisa karena permintaan dari petambak sini aja kita masih kewalahan. Fokus kita di dalam dulu, karena selama ini kita masih banyak pasokan dari luar," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Kebutuhan Tinggi, Hatchery Udang Windu Tanjung Batu Akan Dikembangkan

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    11 Juni 2026 pukul 09:54 WITA

    Kepala Diskan Berau, Abdul Majid. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Tingginya kebutuhan benur udang windu di Kabupaten Berau mendorong rencana pengembangan hatchery di SMK 3 Perikanan Tanjung Batu. Saat ini, kapasitas produksi hatchery tersebut masih belum mampu memenuhi permintaan petambak yang terus meningkat setiap tahunnya.

    Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Berau, Abdul Majid mengatakan, kebutuhan benur udang windu di Berau diperkirakan mencapai 10 hingga 20 juta ekor per tahun. Namun kemampuan produksi hatchery di Tanjung Batu baru sekitar 2 juta ekor per tahun.

    "Ternyata permintaannya melonjak sampai 10 sampai 20 juta per tahun. Sementara kemampuan produksi kemarin baru sekitar 2 juta," ujar Majid.

    Ia mengatakan, hatchery yang dikembangkan melalui kerja sama Dinas Perikanan Berau, YKAN, dan SMK 3 Perikanan Tanjung Batu itu mulai mendapat respons positif dari para petambak karena kualitas bibit yang dihasilkan dinilai lebih baik dibanding pasokan dari luar daerah.

    "Alhamdulillah hatchery di Tanjung Batu diminati petani tambak kita karena tingkat mortalitasnya lebih rendah," tambahnya.

    Dirinya menjelaskan, tingginya tingkat kematian bibit dari luar daerah dipengaruhi proses pengiriman yang cukup jauh. Sementara bibit lokal lebih mudah beradaptasi saat ditebar di tambak.

    "Ternyata kualitas bibit dari Tanjung Batu lebih bagus daripada luar daerah. Karena kalau dari luar daerah seperti Tarakan tingkat mortalitasnya bisa mencapai 50 sampai 70 persen," katanya.

    Oleh karena itu, melihat tingginya minat petambak, pemerintah daerah berencana mendorong pengembangan hatchery dengan menambah fasilitas peneluran dan kapasitas produksi.

    "Insyaallah akan dikembangkan lagi. Kemungkinan nanti ditambah lagi tempat penelurannya karena kapasitasnya masih kurang," ujarnya.

    Ia menyebut, lahan di kawasan SMK 3 Perikanan Tanjung Batu masih memungkinkan untuk pengembangan hatchery ke depan. Namun pengembangannya tetap akan dikoordinasikan bersama pemerintah provinsi.

    "Karena kewenangannya ada di provinsi, nanti kita akan koordinasi lagi," jelasnya.

    Majid pun menyampaikan untuk sementara, produksi benur lokal masih diprioritaskan memenuhi kebutuhan petambak di wilayah Berau sebelum dipasarkan ke luar daerah.

    "Hatchery udang windu di Berau ini baru ada di Tanjung Batu saja. Jadi untuk ekspor keluar kita juga belum bisa karena permintaan dari petambak sini aja kita masih kewalahan. Fokus kita di dalam dulu, karena selama ini kita masih banyak pasokan dari luar," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)