Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau
200 ribu bibit kakao untuk Berau dari Kementerian Pertanian. (Foto: Prokopim Berau)
Tanjung Redeb - Kakao mulai menjadi salah satu komoditas perkebunan yang terus dikembangkan di Kabupaten Berau. Pemerintah daerah kini menyiapkan 200 ribu bibit kakao untuk memperluas areal tanam hingga 200 hektare.
Bantuan tersebut merupakan usulan Bupati Berau kepada Kementerian Pertanian melalui Forum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI). Bibit akan diarahkan kepada delapan kelompok tani yang berada di enam kampung sentra pengembangan kakao.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini, mengatakan jumlah bibit tersebut disesuaikan dengan kebutuhan lahan yang akan dikembangkan. Untuk kebutuhan satu hektare sekitar 1.000 bibit. Sehingga, dengan target pengembangan 200 hektare, jumlah yang di siapkan mencapai 200 ribu bibit.
"Pengembangan kakao tidak cukup hanya dengan memperluas areal tanam. Petani juga perlu memastikan tanaman mendapat perawatan yang baik agar mampu tumbuh dan menghasilkan secara optimal," kata Lita.
Ia pun menyampaikan bahwa pemeliharaan, pemupukan hingga pengendalian hama dan penyakit menjadi bagian yang akan terus didorong melalui pendampingan teknis kepada kelompok tani. Hal ini dilakukan agar program pengembangan kakao dapat berlanjut hingga tahap produksi.
"Pendampingan akan tetap kami lakukan. Dukungan sarana produksi juga akan terus diupayakan agar tanaman yang sudah dikembangkan dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal," ujarnya.
Sementara itu, dirinya menyoroti bahwa kakao memiliki peluang ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat. Salah satunya ditunjukkan dari harga biji kakao kering yang saat ini dapat mencapai sekitar Rp180 ribu per kilogram.
"Untuk kakao kering, harga jualnya saat ini bisa mencapai sekitar Rp180 ribu per kilogram. Namun, tentu kualitas hasil juga menjadi salah satu faktor yang menentukan nilai jual," tuturnya.
Oleh karena itu, peningkatan kualitas menjadi bagian penting dalam pengembangan kakao di Berau. Petani didorong tidak hanya meningkatkan jumlah produksi, tetapi juga memperhatikan proses penanganan hasil setelah panen agar kualitas biji tetap terjaga.
"Potensi itu terlihat dari pengembangan pascapanen di Kampung Birang, Kecamatan Gunung Tabur. Salah satu perkebunan di wilayah itu telah melakukan fermentasi biji kakao sebelum dipasarkan dan hasilnya telah menjangkau pasar di beberapa negara," katanya.
Menurut Lita, kondisi tersebut menunjukkan peluang kakao Berau untuk dikembangkan menjadi komoditas bernilai ekonomi lebih tinggi. Pengolahan dan peningkatan kualitas hasil dinilai dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi petani. Sehingganya, pihaknya pun akan mengupayakan dukungan lanjutan, termasuk kebutuhan pupuk dan tambahan bibit apabila kawasan pengembangan kakao kembali diperluas.
"Kami berharap dengan dukungan itu, pengembangan kakao tidak hanya menambah luas kebun, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi yang diterima masyarakat," tandasnya. (Adv)
(Sf/Lo)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau

200 ribu bibit kakao untuk Berau dari Kementerian Pertanian. (Foto: Prokopim Berau)
Tanjung Redeb - Kakao mulai menjadi salah satu komoditas perkebunan yang terus dikembangkan di Kabupaten Berau. Pemerintah daerah kini menyiapkan 200 ribu bibit kakao untuk memperluas areal tanam hingga 200 hektare.
Bantuan tersebut merupakan usulan Bupati Berau kepada Kementerian Pertanian melalui Forum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI). Bibit akan diarahkan kepada delapan kelompok tani yang berada di enam kampung sentra pengembangan kakao.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini, mengatakan jumlah bibit tersebut disesuaikan dengan kebutuhan lahan yang akan dikembangkan. Untuk kebutuhan satu hektare sekitar 1.000 bibit. Sehingga, dengan target pengembangan 200 hektare, jumlah yang di siapkan mencapai 200 ribu bibit.
"Pengembangan kakao tidak cukup hanya dengan memperluas areal tanam. Petani juga perlu memastikan tanaman mendapat perawatan yang baik agar mampu tumbuh dan menghasilkan secara optimal," kata Lita.
Ia pun menyampaikan bahwa pemeliharaan, pemupukan hingga pengendalian hama dan penyakit menjadi bagian yang akan terus didorong melalui pendampingan teknis kepada kelompok tani. Hal ini dilakukan agar program pengembangan kakao dapat berlanjut hingga tahap produksi.
"Pendampingan akan tetap kami lakukan. Dukungan sarana produksi juga akan terus diupayakan agar tanaman yang sudah dikembangkan dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal," ujarnya.
Sementara itu, dirinya menyoroti bahwa kakao memiliki peluang ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat. Salah satunya ditunjukkan dari harga biji kakao kering yang saat ini dapat mencapai sekitar Rp180 ribu per kilogram.
"Untuk kakao kering, harga jualnya saat ini bisa mencapai sekitar Rp180 ribu per kilogram. Namun, tentu kualitas hasil juga menjadi salah satu faktor yang menentukan nilai jual," tuturnya.
Oleh karena itu, peningkatan kualitas menjadi bagian penting dalam pengembangan kakao di Berau. Petani didorong tidak hanya meningkatkan jumlah produksi, tetapi juga memperhatikan proses penanganan hasil setelah panen agar kualitas biji tetap terjaga.
"Potensi itu terlihat dari pengembangan pascapanen di Kampung Birang, Kecamatan Gunung Tabur. Salah satu perkebunan di wilayah itu telah melakukan fermentasi biji kakao sebelum dipasarkan dan hasilnya telah menjangkau pasar di beberapa negara," katanya.
Menurut Lita, kondisi tersebut menunjukkan peluang kakao Berau untuk dikembangkan menjadi komoditas bernilai ekonomi lebih tinggi. Pengolahan dan peningkatan kualitas hasil dinilai dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi petani. Sehingganya, pihaknya pun akan mengupayakan dukungan lanjutan, termasuk kebutuhan pupuk dan tambahan bibit apabila kawasan pengembangan kakao kembali diperluas.
"Kami berharap dengan dukungan itu, pengembangan kakao tidak hanya menambah luas kebun, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi yang diterima masyarakat," tandasnya. (Adv)
(Sf/Lo)