Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau
Danau Nyadeng, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau. (Foto: istimewa)
Tanjung Redeb - Pengelola wisata Kampung Merabu, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau menghentikan sementara akses menuju Danau Nyadeng dan Puncak Ketepu. Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi menyusul debit Sungai Lesan yang terus menyusut akibat musim kemarau.
Surutnya debit Sungai Lesan membuat perjalanan menuju dua destinasi wisata tersebut menjadi lebih sulit dibandingkan kondisi normal. Karena itu, pengelola memilih menutup sementara akses demi menjaga keselamatan dan kenyamanan wisatawan.
Kepala Kampung Merabu, Asrani, mengatakan kondisi debit Sungai Lesan saat ini memang cukup surut. Pihaknya berharap hujan masih turun sehingga kondisi air dapat kembali normal, sekaligus membantu mengurangi risiko kebakaran hutan.
Ia menegaskan, penutupan sementara tersebut bukan berarti seluruh kegiatan wisata di Kampung Merabu dihentikan. Kebijakan hanya diberlakukan pada akses menuju Danau Nyadeng dan Puncak Ketepu hingga kondisi alam kembali mendukung perjalanan.
"Keselamatan dan kenyamanan tamu menjadi prioritas kami. Kami mohon pengertian wisatawan dan berharap bisa kembali menerima kunjungan ketika kondisi sudah memungkinkan," ujar Asrani.
Pihak kampung juga mengimbau wisatawan untuk tidak memaksakan perjalanan menuju kedua destinasi tersebut selama akses masih belum memungkinkan. Wisatawan diminta menunggu hingga kondisi debit sungai kembali aman untuk dilalui.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budi Santosa, mendukung langkah pengelola wisata Merabu tersebut. Menurutnya, keselamatan harus menjadi pertimbangan utama dalam pengelolaan destinasi wisata, terlebih destinasi yang sangat bergantung pada kondisi alam.
"Kalau kondisi akses belum memungkinkan, jangan dipaksakan. Keselamatan wisatawan menjadi yang utama dan kami berharap kondisi alam segera kembali normal sehingga aktivitas wisata bisa dibuka kembali," kata Yudha.
Yudha menjelaskan, penutupan sementara tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas pengalaman wisatawan. Kondisi lingkungan yang berubah akibat musim kemarau harus menjadi pertimbangan dalam menentukan aktivitas kunjungan.
"Destinasi wisata berbasis alam sangat bergantung pada kondisi lingkungan, sehingga pengelola perlu menyesuaikan aktivitas dengan situasi di lapangan," tandas Yudha. (Adv)
(Sf/Lo)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau

Danau Nyadeng, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau. (Foto: istimewa)
Tanjung Redeb - Pengelola wisata Kampung Merabu, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau menghentikan sementara akses menuju Danau Nyadeng dan Puncak Ketepu. Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi menyusul debit Sungai Lesan yang terus menyusut akibat musim kemarau.
Surutnya debit Sungai Lesan membuat perjalanan menuju dua destinasi wisata tersebut menjadi lebih sulit dibandingkan kondisi normal. Karena itu, pengelola memilih menutup sementara akses demi menjaga keselamatan dan kenyamanan wisatawan.
Kepala Kampung Merabu, Asrani, mengatakan kondisi debit Sungai Lesan saat ini memang cukup surut. Pihaknya berharap hujan masih turun sehingga kondisi air dapat kembali normal, sekaligus membantu mengurangi risiko kebakaran hutan.
Ia menegaskan, penutupan sementara tersebut bukan berarti seluruh kegiatan wisata di Kampung Merabu dihentikan. Kebijakan hanya diberlakukan pada akses menuju Danau Nyadeng dan Puncak Ketepu hingga kondisi alam kembali mendukung perjalanan.
"Keselamatan dan kenyamanan tamu menjadi prioritas kami. Kami mohon pengertian wisatawan dan berharap bisa kembali menerima kunjungan ketika kondisi sudah memungkinkan," ujar Asrani.
Pihak kampung juga mengimbau wisatawan untuk tidak memaksakan perjalanan menuju kedua destinasi tersebut selama akses masih belum memungkinkan. Wisatawan diminta menunggu hingga kondisi debit sungai kembali aman untuk dilalui.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budi Santosa, mendukung langkah pengelola wisata Merabu tersebut. Menurutnya, keselamatan harus menjadi pertimbangan utama dalam pengelolaan destinasi wisata, terlebih destinasi yang sangat bergantung pada kondisi alam.
"Kalau kondisi akses belum memungkinkan, jangan dipaksakan. Keselamatan wisatawan menjadi yang utama dan kami berharap kondisi alam segera kembali normal sehingga aktivitas wisata bisa dibuka kembali," kata Yudha.
Yudha menjelaskan, penutupan sementara tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas pengalaman wisatawan. Kondisi lingkungan yang berubah akibat musim kemarau harus menjadi pertimbangan dalam menentukan aktivitas kunjungan.
"Destinasi wisata berbasis alam sangat bergantung pada kondisi lingkungan, sehingga pengelola perlu menyesuaikan aktivitas dengan situasi di lapangan," tandas Yudha. (Adv)
(Sf/Lo)