Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau
Kepala DPMPTSP Berau, Nanang Bakran. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau menetapkan target realisasi investasi sebesar Rp8 triliun pada 2026. Target tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan target tahun sebelumnya yang berada di angka Rp4,5 triliun.
Pada 2025, Berau mencatat capaian investasi Rp8,76 triliun atau 194,71 persen dari target. Capaian tersebut sekaligus menempatkan Berau pada peringkat pertama di Kalimantan Timur berdasarkan persentase realisasi investasi.
Memasuki 2026, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Berau harus kembali mengejar target yang cukup besar tersebut. Hingga triwulan II 2026, realisasi investasi Berau telah berada di kisaran Rp3,6 hingga Rp3,7 triliun.
Kepala DPMPTSP Berau, Nanang Bakran, mengatakan kenaikan target menjadi Rp8 triliun menjadi tantangan tersendiri di tengah kondisi perekonomian dan kebijakan efisiensi yang berlangsung.
"2026 ini target investasi yang harus kami kejar besar sekali. Dari tahun sebelumnya Rp4,5 triliun, dinaikkan menjadi Rp8 triliun," ujar Nanang.
Meski kondisi saat ini membuat ruang gerak investasi perlu disesuaikan, DPMPTSP tetap berupaya memaksimalkan potensi yang dapat ditawarkan kepada investor. Menurutnya, kondisi efisiensi bukan menjadi alasan untuk menghentikan upaya menarik investasi, tetapi menjadi bagian dari penyesuaian strategi.
"Kita tetap berusaha untuk mencapai target. Kondisi secara nasional juga menyesuaikan keadaan, ada efisiensi di mana-mana. Kita menghitung, kita monitoring, kita melihat keadaan. Apa yang memang bisa dipasarkan dan kita tawarkan, ya kita tawarkan dulu," katanya.
Oleh karena itu, untuk mengejar target tersebut, pihaknya tidak hanya mengandalkan promosi investasi, tetapi juga meningkatkan pengawasan terhadap investasi yang sudah berjalan. Pemantauan langsung ke lapangan dilakukan untuk melihat perkembangan kegiatan usaha sekaligus memastikan pelaku usaha memenuhi kewajibannya.
"Selain itu, kita juga meningkatkan kolaborasi dengan beberapa OPD yang lain, termasuk dengan provinsi. Kita adakan acara-acara di satu tempat, kita undang beberapa pengusaha dan kita berikan arahan," ungkapnya.
Sehingganya, ia pun mendorong pelaku usaha untuk lebih berkomitmen dalam melaporkan perkembangan investasinya kepada pemerintah daerah. Salah satunya melalui penyampaian Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM), sehingga perkembangan investasi dapat dipantau secara berkala.
Ia mengatakan dari sisi sektor, pertambangan masih menjadi salah satu sektor dominan dalam investasi di Berau. Namun, Pemkab Berau mulai mendorong pengembangan investasi pada sektor lain agar struktur investasi daerah semakin beragam.
"Sebenarnya Berau ini cukup unik. Kita tidak menutup mata, sektor pertama masih tambang. Tapi sektor yang lain kita coba dorong, kita lanjutkan ke sektor-sektor yang lain seperti sektor pertanian dalam arti luas, perkebunan, pariwisata hingga industri," tuturnya.
Khusus pariwisata dan produk UMKM, Nanang juga menilai perkembangannya mulai menunjukkan peluang yang semakin terbuka. Keikutsertaan produk lokal dalam berbagai kegiatan di luar daerah, termasuk di Jakarta, dinilai membantu memperkenalkan potensi Berau secara lebih luas.
"Dari situ bisa kita lihat, beberapa produk UMKM kita nilainya saya kira masih bisa diterima dan layak," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau

Kepala DPMPTSP Berau, Nanang Bakran. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau menetapkan target realisasi investasi sebesar Rp8 triliun pada 2026. Target tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan target tahun sebelumnya yang berada di angka Rp4,5 triliun.
Pada 2025, Berau mencatat capaian investasi Rp8,76 triliun atau 194,71 persen dari target. Capaian tersebut sekaligus menempatkan Berau pada peringkat pertama di Kalimantan Timur berdasarkan persentase realisasi investasi.
Memasuki 2026, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Berau harus kembali mengejar target yang cukup besar tersebut. Hingga triwulan II 2026, realisasi investasi Berau telah berada di kisaran Rp3,6 hingga Rp3,7 triliun.
Kepala DPMPTSP Berau, Nanang Bakran, mengatakan kenaikan target menjadi Rp8 triliun menjadi tantangan tersendiri di tengah kondisi perekonomian dan kebijakan efisiensi yang berlangsung.
"2026 ini target investasi yang harus kami kejar besar sekali. Dari tahun sebelumnya Rp4,5 triliun, dinaikkan menjadi Rp8 triliun," ujar Nanang.
Meski kondisi saat ini membuat ruang gerak investasi perlu disesuaikan, DPMPTSP tetap berupaya memaksimalkan potensi yang dapat ditawarkan kepada investor. Menurutnya, kondisi efisiensi bukan menjadi alasan untuk menghentikan upaya menarik investasi, tetapi menjadi bagian dari penyesuaian strategi.
"Kita tetap berusaha untuk mencapai target. Kondisi secara nasional juga menyesuaikan keadaan, ada efisiensi di mana-mana. Kita menghitung, kita monitoring, kita melihat keadaan. Apa yang memang bisa dipasarkan dan kita tawarkan, ya kita tawarkan dulu," katanya.
Oleh karena itu, untuk mengejar target tersebut, pihaknya tidak hanya mengandalkan promosi investasi, tetapi juga meningkatkan pengawasan terhadap investasi yang sudah berjalan. Pemantauan langsung ke lapangan dilakukan untuk melihat perkembangan kegiatan usaha sekaligus memastikan pelaku usaha memenuhi kewajibannya.
"Selain itu, kita juga meningkatkan kolaborasi dengan beberapa OPD yang lain, termasuk dengan provinsi. Kita adakan acara-acara di satu tempat, kita undang beberapa pengusaha dan kita berikan arahan," ungkapnya.
Sehingganya, ia pun mendorong pelaku usaha untuk lebih berkomitmen dalam melaporkan perkembangan investasinya kepada pemerintah daerah. Salah satunya melalui penyampaian Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM), sehingga perkembangan investasi dapat dipantau secara berkala.
Ia mengatakan dari sisi sektor, pertambangan masih menjadi salah satu sektor dominan dalam investasi di Berau. Namun, Pemkab Berau mulai mendorong pengembangan investasi pada sektor lain agar struktur investasi daerah semakin beragam.
"Sebenarnya Berau ini cukup unik. Kita tidak menutup mata, sektor pertama masih tambang. Tapi sektor yang lain kita coba dorong, kita lanjutkan ke sektor-sektor yang lain seperti sektor pertanian dalam arti luas, perkebunan, pariwisata hingga industri," tuturnya.
Khusus pariwisata dan produk UMKM, Nanang juga menilai perkembangannya mulai menunjukkan peluang yang semakin terbuka. Keikutsertaan produk lokal dalam berbagai kegiatan di luar daerah, termasuk di Jakarta, dinilai membantu memperkenalkan potensi Berau secara lebih luas.
"Dari situ bisa kita lihat, beberapa produk UMKM kita nilainya saya kira masih bisa diterima dan layak," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)