Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau
Perkebunan kakao di Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Keberhasilan ekspor perdana biji kakao sebanyak 1,5 ton ke Swiss menjadi langkah penting bagi pengembangan komoditas kakao Kabupaten Berau di pasar internasional.
Ekspor yang dilakukan PT Khatulistiwa Agro Serasi Sentosa (PT KASS) tersebut mendapat respons positif dari pasar Swiss. Bahkan, permintaan berkelanjutan mulai terbuka dan sejumlah negara Eropa lainnya turut menunjukkan ketertarikan terhadap kakao asal Berau.
Plt. Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Berau, M Hendratno, mengatakan keberhasilan menembus pasar luar negeri harus diikuti dengan konsistensi dalam menjaga mutu biji kakao.
"Permintaan dari Swiss ini dipastikan terus berlanjut karena tahap uji coba sebelumnya mendapatkan sambutan luar biasa di sana. Bahkan beberapa negara Eropa lain sudah mulai melirik," kata Hendratno.
Menurutnya, kualitas menjadi faktor utama yang harus dipertahankan ketika produksi kakao mulai ditingkatkan. Jangan sampai peningkatan volume produksi justru membuat standar mutu mengalami penurunan.
"Karena itu, fokus utama kita saat ini adalah menjaga standar kualitas bahan baku agar konsisten saat produksi ditingkatkan," ujarnya.
Sementara itu, ia menyebut tingginya permintaan dari pasar luar negeri saat ini belum sebanding dengan kapasitas produksi kakao di Berau. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah daerah dan petani untuk memperluas pengembangan tanaman kakao.
Untuk mendukung peningkatan produksi, Disbun Berau telah memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat. Hasilnya, Berau memperoleh alokasi bantuan bibit unggul untuk pengembangan tanaman kakao di lahan seluas 200 hektare.
"Kita mendapatkan bantuan alokasi bibit untuk 200 hektare dari pusat. Tapi nanti penyalurannya ke petani dilakukan bertahap," terangnya.
Ia menyampaikan, penyaluran bibit dilakukan secara bertahap dengan terlebih dahulu memastikan kesiapan lahan. Hal ini penting mengingat nantinya dapat mempengaruhi pertumbuhan pada bibit tanaman.
"Langkah pertama adalah pemantapan lahan terlebih dahulu. Kita pastikan lahannya siap, rapi dan kondisi cuaca mendukung sebelum bibit didistribusikan agar tingkat keberhasilan tanam maksimal," tuturnya.
Oleh karena itu, program pengembangan kakao seluas 200 hektare tersebut akan difokuskan kepada sejumlah kelompok tani yang dinilai memiliki potensi dan kesiapan lahan.
"Beberapa kecamatan yang potensial seperti kecamatan Segah, Kelay dan Sambaliung dan lain-lain. Intinya wilayah yang memiliki kesesuaian lahan serta rekam produktivitas perkebunan yang mendukung pengembangan tanaman kakao," tambahnya.
Hendratno pun berharap perluasan areal tanam dan penguatan mutu tersebut mampu meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap. Dengan begitu, peluang ekspor tidak hanya berhenti di Swiss, tetapi juga dapat diperluas ke sejumlah negara Eropa lainnya. (Adv)
(Sf/Lo)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau

Perkebunan kakao di Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Keberhasilan ekspor perdana biji kakao sebanyak 1,5 ton ke Swiss menjadi langkah penting bagi pengembangan komoditas kakao Kabupaten Berau di pasar internasional.
Ekspor yang dilakukan PT Khatulistiwa Agro Serasi Sentosa (PT KASS) tersebut mendapat respons positif dari pasar Swiss. Bahkan, permintaan berkelanjutan mulai terbuka dan sejumlah negara Eropa lainnya turut menunjukkan ketertarikan terhadap kakao asal Berau.
Plt. Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Berau, M Hendratno, mengatakan keberhasilan menembus pasar luar negeri harus diikuti dengan konsistensi dalam menjaga mutu biji kakao.
"Permintaan dari Swiss ini dipastikan terus berlanjut karena tahap uji coba sebelumnya mendapatkan sambutan luar biasa di sana. Bahkan beberapa negara Eropa lain sudah mulai melirik," kata Hendratno.
Menurutnya, kualitas menjadi faktor utama yang harus dipertahankan ketika produksi kakao mulai ditingkatkan. Jangan sampai peningkatan volume produksi justru membuat standar mutu mengalami penurunan.
"Karena itu, fokus utama kita saat ini adalah menjaga standar kualitas bahan baku agar konsisten saat produksi ditingkatkan," ujarnya.
Sementara itu, ia menyebut tingginya permintaan dari pasar luar negeri saat ini belum sebanding dengan kapasitas produksi kakao di Berau. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah daerah dan petani untuk memperluas pengembangan tanaman kakao.
Untuk mendukung peningkatan produksi, Disbun Berau telah memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat. Hasilnya, Berau memperoleh alokasi bantuan bibit unggul untuk pengembangan tanaman kakao di lahan seluas 200 hektare.
"Kita mendapatkan bantuan alokasi bibit untuk 200 hektare dari pusat. Tapi nanti penyalurannya ke petani dilakukan bertahap," terangnya.
Ia menyampaikan, penyaluran bibit dilakukan secara bertahap dengan terlebih dahulu memastikan kesiapan lahan. Hal ini penting mengingat nantinya dapat mempengaruhi pertumbuhan pada bibit tanaman.
"Langkah pertama adalah pemantapan lahan terlebih dahulu. Kita pastikan lahannya siap, rapi dan kondisi cuaca mendukung sebelum bibit didistribusikan agar tingkat keberhasilan tanam maksimal," tuturnya.
Oleh karena itu, program pengembangan kakao seluas 200 hektare tersebut akan difokuskan kepada sejumlah kelompok tani yang dinilai memiliki potensi dan kesiapan lahan.
"Beberapa kecamatan yang potensial seperti kecamatan Segah, Kelay dan Sambaliung dan lain-lain. Intinya wilayah yang memiliki kesesuaian lahan serta rekam produktivitas perkebunan yang mendukung pengembangan tanaman kakao," tambahnya.
Hendratno pun berharap perluasan areal tanam dan penguatan mutu tersebut mampu meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap. Dengan begitu, peluang ekspor tidak hanya berhenti di Swiss, tetapi juga dapat diperluas ke sejumlah negara Eropa lainnya. (Adv)
(Sf/Lo)