Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    DTPHP Berau Perkuat Antisipasi Kemarau, Dibantu Pompa dan Drone

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    04 September 2026 pukul 15:33 WITA

    Kepala DTPHP Berau, Lita Handini. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Berau memperkuat langkah antisipasi menghadapi kemarau ekstrem yang berdampak terhadap sektor pertanian. 

    Bantuan pompa hingga pemanfaatan drone untuk pengendalian hama menjadi upaya yang dilakukan untuk membantu petani mempertahankan produksi.

    Kepala DTPHP Berau, Lita Handini mengatakan, kondisi panas ekstrem membuat sejumlah lahan pertanian mengalami kekurangan air. Dampaknya, produksi tiga komoditas pangan strategis, yakni padi, jagung dan cabai mengalami penurunan.

    “Prioritas strategis kita tiga ya, padi, jagung sama cabai. Tiga-tiganya menunjukkan penurunan," kata Lita.

    Menurutnya, kekurangan air menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan produktivitas tanaman menurun. Kondisi tersebut juga diperparah angin yang cukup kencang sehingga meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit.

    "Kondisi ini mengancam pencapaian target produksi pertanian Berau pada 2026. Terlebih, musim kemarau diperkirakan berlangsung lebih panjang dan berpotensi menggeser jadwal tanam petani," tambahnya.

    Oleh karena itu, untuk mengantisipasi kekurangan air, DTPHP Berau telah memberikan bantuan pompa kepada petani yang lahannya mengalami kekeringan, terutama pada wilayah yang sistem irigasinya tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan air tanaman.

    "Tidak semua lokasi memang ada pompa. Jadi yang masih bisa panen bulan ini ya karena ada bantuan pompa, mereka mengompa dari sumber air," tuturnya.

    Selain itu, untuk mengantisipasi hama, DTPHP juga melakukan Gerakan Pengendalian (Gerdal) untuk menekan serangan hama dan penyakit tanaman. Tim akan diterjunkan ke lokasi berdasarkan laporan petani sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

    "Kalau ada laporan serangan hama, tim dari dinas turun ke lapangan untuk melakukan gerakan pengendalian. Kita turun bantu melakukan penyemprotan bagi hama dan penyakit," ungkapnya.

    Gerdal telah dilakukan di sejumlah wilayah, di antaranya Dumaring, Semurut, Buyung-Buyung dan Labanan. Pihaknya juga memanfaatkan drone untuk melakukan penyemprotan karena dinilai lebih efektif dan dapat mempercepat proses pengendalian.

    "Sepanjang petani mengeluh ada serangan hama yang lumayan, tim kita turun. Kita punya drone, jadi kita Gerdal pakai drone karena lebih efektif, lebih singkat waktu pengendaliannya," katanya.

    Meski demikian, ia mengakui tidak seluruh tanaman yang terserang hama dapat diselamatkan, terutama apabila tingkat serangannya sudah parah. Karena itu, laporan dari petani menjadi penting agar penanganan dapat segera dilakukan sebelum serangan meluas.

    "Sementara untuk tanaman lama yang masih mampu berproduksi, kami minta petani melanjutkan perawatan dengan penyiraman secara efektif," katanya.

    Lita mengatakan panjang musim kemarau juga berpotensi menggeser jadwal tanam. Sebab, ia menilai kondisi kemarau saat ini belum memungkinkan untuk melakukan penanaman secara optimal.

    "Rencana tanam kita di Agustus dan September ini kemungkinan akan bergeser sampai Oktober, bahkan mungkin nanti November, Desember baru penambahan tanam, sehingga panen nanti baru di 2027," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    DTPHP Berau Perkuat Antisipasi Kemarau, Dibantu Pompa dan Drone

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    04 September 2026 pukul 15:33 WITA

    Kepala DTPHP Berau, Lita Handini. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Berau memperkuat langkah antisipasi menghadapi kemarau ekstrem yang berdampak terhadap sektor pertanian. 

    Bantuan pompa hingga pemanfaatan drone untuk pengendalian hama menjadi upaya yang dilakukan untuk membantu petani mempertahankan produksi.

    Kepala DTPHP Berau, Lita Handini mengatakan, kondisi panas ekstrem membuat sejumlah lahan pertanian mengalami kekurangan air. Dampaknya, produksi tiga komoditas pangan strategis, yakni padi, jagung dan cabai mengalami penurunan.

    “Prioritas strategis kita tiga ya, padi, jagung sama cabai. Tiga-tiganya menunjukkan penurunan," kata Lita.

    Menurutnya, kekurangan air menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan produktivitas tanaman menurun. Kondisi tersebut juga diperparah angin yang cukup kencang sehingga meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit.

    "Kondisi ini mengancam pencapaian target produksi pertanian Berau pada 2026. Terlebih, musim kemarau diperkirakan berlangsung lebih panjang dan berpotensi menggeser jadwal tanam petani," tambahnya.

    Oleh karena itu, untuk mengantisipasi kekurangan air, DTPHP Berau telah memberikan bantuan pompa kepada petani yang lahannya mengalami kekeringan, terutama pada wilayah yang sistem irigasinya tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan air tanaman.

    "Tidak semua lokasi memang ada pompa. Jadi yang masih bisa panen bulan ini ya karena ada bantuan pompa, mereka mengompa dari sumber air," tuturnya.

    Selain itu, untuk mengantisipasi hama, DTPHP juga melakukan Gerakan Pengendalian (Gerdal) untuk menekan serangan hama dan penyakit tanaman. Tim akan diterjunkan ke lokasi berdasarkan laporan petani sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

    "Kalau ada laporan serangan hama, tim dari dinas turun ke lapangan untuk melakukan gerakan pengendalian. Kita turun bantu melakukan penyemprotan bagi hama dan penyakit," ungkapnya.

    Gerdal telah dilakukan di sejumlah wilayah, di antaranya Dumaring, Semurut, Buyung-Buyung dan Labanan. Pihaknya juga memanfaatkan drone untuk melakukan penyemprotan karena dinilai lebih efektif dan dapat mempercepat proses pengendalian.

    "Sepanjang petani mengeluh ada serangan hama yang lumayan, tim kita turun. Kita punya drone, jadi kita Gerdal pakai drone karena lebih efektif, lebih singkat waktu pengendaliannya," katanya.

    Meski demikian, ia mengakui tidak seluruh tanaman yang terserang hama dapat diselamatkan, terutama apabila tingkat serangannya sudah parah. Karena itu, laporan dari petani menjadi penting agar penanganan dapat segera dilakukan sebelum serangan meluas.

    "Sementara untuk tanaman lama yang masih mampu berproduksi, kami minta petani melanjutkan perawatan dengan penyiraman secara efektif," katanya.

    Lita mengatakan panjang musim kemarau juga berpotensi menggeser jadwal tanam. Sebab, ia menilai kondisi kemarau saat ini belum memungkinkan untuk melakukan penanaman secara optimal.

    "Rencana tanam kita di Agustus dan September ini kemungkinan akan bergeser sampai Oktober, bahkan mungkin nanti November, Desember baru penambahan tanam, sehingga panen nanti baru di 2027," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)