Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Dorong Regenerasi, Tenun Sukan Tengah Disiapkan Lebih Berkelanjutan

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    05 Oktober 2026 pukul 12:39 WITA

    Proses pembuatan kain tenun di sentra tenun Sukan. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Keberlanjutan tenun ikat Sukan Tengah, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau mulai diarahkan pada penguatan regenerasi perajin. Langkah tersebut dinilai penting agar keterampilan menenun tidak berhenti pada perajin yang saat ini sebagian besar telah berusia lanjut.

    Kepala Kampung Sukan Tengah, Bunyamin mengatakan, kemampuan menenun saat ini masih banyak dikuasai warga berusia sekitar 60 hingga 70 tahun. Sementara itu, generasi muda yang tertarik untuk meneruskan keterampilan tersebut masih terbatas.

    "Persoalannya bukan pada pemasaran. Hasil tenun yang diproduksi justru punya daya tarik tersendiri dan relatif mudah terserap pasar. Yang perlu kami pikirkan sekarang adalah siapa yang akan melanjutkan keterampilan ini," ujar Bunyamin.

    Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan apabila tenun ikat ingin dikembangkan sebagai salah satu sumber ekonomi kampung dalam jangka panjang. Sebab, keterampilan yang tidak diwariskan berpotensi hilang seiring berkurangnya jumlah perajin yang masih aktif.

    Ia pun menyampaikan upaya mengenalkan keterampilan menenun kepada warga usia produktif telah dilakukan. Namun, menurutnya, proses tersebut membutuhkan pendampingan karena keterampilan menenun tidak dapat dikuasai hanya dalam beberapa kali pelatihan.

    "Kalau tidak segera ada penerus, kemampuan yang dimiliki para penenun sekarang bisa ikut hilang. Karena itu, anak-anak muda perlu diberi kesempatan untuk belajar dan didampingi sampai benar-benar bisa menghasilkan," tuturnya.

    Bunyamin juga menilai dukungan ekonomi selama masa belajar dapat menjadi salah satu cara meningkatkan minat generasi muda. Dimana , ia berharap setelah menguasai keterampilan, mereka bisa langsung melihat potensi tenun sebagai sumber penghasilan.

    Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, Eva Yunita mengatakan, pengembangan tenun Sukan Tengah membutuhkan sistem pengelolaan yang mampu menjaga keberadaan perajin sekaligus membuka ruang bagi generasi baru.

    "Pembinaan tidak boleh berhenti pada pelatihan. Kita juga perlu memastikan ada pengelolaan yang berkelanjutan, sehingga perajin lama tetap berjalan dan generasi muda punya ruang untuk masuk," kata Eva.

    Salah satu langkah yang tengah dipersiapkan yakni penguatan kelembagaan Sentra Tenun Sukan Tengah melalui pembentukan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD).

    "Kelembagaan itu diharapkan dapat memperkuat pembinaan, pengelolaan produksi, dukungan anggaran hingga pengembangan pasar," tambahnya.

    Eva juga menekankan bahwa keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam pengembangan tersebut. Mereka diharapkan tidak hanya mempelajari teknik menenun, tetapi juga melihat peluang ekonomi yang dapat dikembangkan dari produk tersebut.

    "Targetnya bukan sekadar melahirkan penenun baru, tetapi bagaimana mereka bisa bertahan dan berkembang. Kalau ekosistemnya terbentuk, tenun Sukan Tengah bisa terus hidup sekaligus menjadi peluang ekonomi bagi generasi muda," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Dorong Regenerasi, Tenun Sukan Tengah Disiapkan Lebih Berkelanjutan

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    05 Oktober 2026 pukul 12:39 WITA

    Proses pembuatan kain tenun di sentra tenun Sukan. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Keberlanjutan tenun ikat Sukan Tengah, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau mulai diarahkan pada penguatan regenerasi perajin. Langkah tersebut dinilai penting agar keterampilan menenun tidak berhenti pada perajin yang saat ini sebagian besar telah berusia lanjut.

    Kepala Kampung Sukan Tengah, Bunyamin mengatakan, kemampuan menenun saat ini masih banyak dikuasai warga berusia sekitar 60 hingga 70 tahun. Sementara itu, generasi muda yang tertarik untuk meneruskan keterampilan tersebut masih terbatas.

    "Persoalannya bukan pada pemasaran. Hasil tenun yang diproduksi justru punya daya tarik tersendiri dan relatif mudah terserap pasar. Yang perlu kami pikirkan sekarang adalah siapa yang akan melanjutkan keterampilan ini," ujar Bunyamin.

    Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan apabila tenun ikat ingin dikembangkan sebagai salah satu sumber ekonomi kampung dalam jangka panjang. Sebab, keterampilan yang tidak diwariskan berpotensi hilang seiring berkurangnya jumlah perajin yang masih aktif.

    Ia pun menyampaikan upaya mengenalkan keterampilan menenun kepada warga usia produktif telah dilakukan. Namun, menurutnya, proses tersebut membutuhkan pendampingan karena keterampilan menenun tidak dapat dikuasai hanya dalam beberapa kali pelatihan.

    "Kalau tidak segera ada penerus, kemampuan yang dimiliki para penenun sekarang bisa ikut hilang. Karena itu, anak-anak muda perlu diberi kesempatan untuk belajar dan didampingi sampai benar-benar bisa menghasilkan," tuturnya.

    Bunyamin juga menilai dukungan ekonomi selama masa belajar dapat menjadi salah satu cara meningkatkan minat generasi muda. Dimana , ia berharap setelah menguasai keterampilan, mereka bisa langsung melihat potensi tenun sebagai sumber penghasilan.

    Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, Eva Yunita mengatakan, pengembangan tenun Sukan Tengah membutuhkan sistem pengelolaan yang mampu menjaga keberadaan perajin sekaligus membuka ruang bagi generasi baru.

    "Pembinaan tidak boleh berhenti pada pelatihan. Kita juga perlu memastikan ada pengelolaan yang berkelanjutan, sehingga perajin lama tetap berjalan dan generasi muda punya ruang untuk masuk," kata Eva.

    Salah satu langkah yang tengah dipersiapkan yakni penguatan kelembagaan Sentra Tenun Sukan Tengah melalui pembentukan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD).

    "Kelembagaan itu diharapkan dapat memperkuat pembinaan, pengelolaan produksi, dukungan anggaran hingga pengembangan pasar," tambahnya.

    Eva juga menekankan bahwa keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam pengembangan tersebut. Mereka diharapkan tidak hanya mempelajari teknik menenun, tetapi juga melihat peluang ekonomi yang dapat dikembangkan dari produk tersebut.

    "Targetnya bukan sekadar melahirkan penenun baru, tetapi bagaimana mereka bisa bertahan dan berkembang. Kalau ekosistemnya terbentuk, tenun Sukan Tengah bisa terus hidup sekaligus menjadi peluang ekonomi bagi generasi muda," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)