Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Disbudpar Berau Buka Peluang Pihak Ketiga Kembangkan Penginapan di Air Panas Pemapak

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    14 Agustus 2026 pukul 11:09 WITA

    Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) membuka peluang keterlibatan pihak ketiga dalam pengembangan fasilitas penginapan di Destinasi Wisata Air Panas Pemapak.

    Sebagaimana diketahui, Wisata Air Panas Pemapak merupakan pemandian air panas alami unik berasa asin yang terletak di Kampung Biatan Bapinang, Kecamatan Biatan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

    Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan penambahan fasilitas penginapan menjadi salah satu kebutuhan untuk mengembangkan kawasan tersebut. Masukan itu juga muncul saat kunjungan delegasi Seychelles ke Air Panas Pemapak.

    "Waktu kunjungan Seychelles, mereka banyak memberikan masukan dan saran. Salah satunya kalau bisa ada semacam pemondokan atau penginapan, sehingga malam hari pun bisa dibuka untuk pengunjung tertentu yang ingin istirahat, berobat atau mencari ketenangan,"  ujar Yudha.

    Menurutnya, peluang kerja sama dengan pihak ketiga dapat menjadi salah satu alternatif karena pengembangan destinasi wisata tidak harus sepenuhnya mengandalkan anggaran pemerintah.

    "Kami ingin menawarkan juga sih kalau ada pihak ketiga misalnya mereka ingin membangun pemondokannya, kami menyambut malah. Karena kan nggak bisa juga semuanya terus-terus pemerintah. Mereka juga, pengelola kami tawarkan, kalau misalnya bisa ya silakan," katanya.

    Ia pun menjelaskan, keterlibatan pihak ketiga nantinya tetap perlu diarahkan agar pengembangan fasilitas berjalan selaras dengan potensi kawasan dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Dengan adanya tambahan fasilitas, kunjungan wisatawan diharapkan tidak hanya terkonsentrasi pada musim liburan, tetapi dapat berlangsung lebih merata.

    "Jadi bukan hanya fasilitasnya yang bertambah, tapi bagaimana kawasan ini bisa terus hidup dan masyarakat di sekitarnya juga ikut mendapatkan manfaat dari aktivitas wisata," ujarnya.

    Selain itu, Disbudpar juga mendorong masyarakat sekitar untuk memanfaatkan rumah yang dimiliki sebagai homestay. Langkah tersebut dinilai bisa menjadi solusi awal sekaligus memberikan manfaat ekonomi langsung bagi warga.

    "Paling tidak ada homestay dulu. Rumah yang ada di sekitar situ bisa dijadikan homestay, kamar-kamarnya disesuaikan dengan standar. Ini juga bisa jadi kesempatan masyarakat untuk mendapatkan penghasilan," tuturnya.

    Yudha pun menyampaikan bahwa pengembangan Air Panas Pemapak tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik. Unsur cerita dan sejarah kawasan juga perlu dikemas sebagai daya tarik wisata melalui konsep story tourism.

    "Selain melengkapi infrastrukturnya, kita juga perlu storytelling, story tourism. Jadi ada cerita di balik air panas itu, mungkin dari sejarahnya atau cerita-cerita masyarakat yang ada di sekitar sana," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Disbudpar Berau Buka Peluang Pihak Ketiga Kembangkan Penginapan di Air Panas Pemapak

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    14 Agustus 2026 pukul 11:09 WITA

    Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) membuka peluang keterlibatan pihak ketiga dalam pengembangan fasilitas penginapan di Destinasi Wisata Air Panas Pemapak.

    Sebagaimana diketahui, Wisata Air Panas Pemapak merupakan pemandian air panas alami unik berasa asin yang terletak di Kampung Biatan Bapinang, Kecamatan Biatan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

    Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan penambahan fasilitas penginapan menjadi salah satu kebutuhan untuk mengembangkan kawasan tersebut. Masukan itu juga muncul saat kunjungan delegasi Seychelles ke Air Panas Pemapak.

    "Waktu kunjungan Seychelles, mereka banyak memberikan masukan dan saran. Salah satunya kalau bisa ada semacam pemondokan atau penginapan, sehingga malam hari pun bisa dibuka untuk pengunjung tertentu yang ingin istirahat, berobat atau mencari ketenangan,"  ujar Yudha.

    Menurutnya, peluang kerja sama dengan pihak ketiga dapat menjadi salah satu alternatif karena pengembangan destinasi wisata tidak harus sepenuhnya mengandalkan anggaran pemerintah.

    "Kami ingin menawarkan juga sih kalau ada pihak ketiga misalnya mereka ingin membangun pemondokannya, kami menyambut malah. Karena kan nggak bisa juga semuanya terus-terus pemerintah. Mereka juga, pengelola kami tawarkan, kalau misalnya bisa ya silakan," katanya.

    Ia pun menjelaskan, keterlibatan pihak ketiga nantinya tetap perlu diarahkan agar pengembangan fasilitas berjalan selaras dengan potensi kawasan dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Dengan adanya tambahan fasilitas, kunjungan wisatawan diharapkan tidak hanya terkonsentrasi pada musim liburan, tetapi dapat berlangsung lebih merata.

    "Jadi bukan hanya fasilitasnya yang bertambah, tapi bagaimana kawasan ini bisa terus hidup dan masyarakat di sekitarnya juga ikut mendapatkan manfaat dari aktivitas wisata," ujarnya.

    Selain itu, Disbudpar juga mendorong masyarakat sekitar untuk memanfaatkan rumah yang dimiliki sebagai homestay. Langkah tersebut dinilai bisa menjadi solusi awal sekaligus memberikan manfaat ekonomi langsung bagi warga.

    "Paling tidak ada homestay dulu. Rumah yang ada di sekitar situ bisa dijadikan homestay, kamar-kamarnya disesuaikan dengan standar. Ini juga bisa jadi kesempatan masyarakat untuk mendapatkan penghasilan," tuturnya.

    Yudha pun menyampaikan bahwa pengembangan Air Panas Pemapak tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik. Unsur cerita dan sejarah kawasan juga perlu dikemas sebagai daya tarik wisata melalui konsep story tourism.

    "Selain melengkapi infrastrukturnya, kita juga perlu storytelling, story tourism. Jadi ada cerita di balik air panas itu, mungkin dari sejarahnya atau cerita-cerita masyarakat yang ada di sekitar sana," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)