Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Disbudpar Berau Angkat Goa Bloyot di Expo 2026, Kenalkan Warisan Prasejarah di Pedalaman Kelay

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    19 Oktober 2026 pukul 14:17 WITA

    Stan Disbudpar di Berau Expo 2026. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau mengangkat Goa Bloyot sebagai tema stan dalam Berau Expo 2026 untuk memperkenalkan kekayaan prasejarah yang tersimpan di pedalaman Kecamatan Kelay.

    Berada di kawasan hutan Kampung Merabu, Goa Bloyot menyimpan lukisan tapak tangan pada dinding gua yang diperkirakan berusia 35 ribu hingga 40 ribu tahun. Peninggalan tersebut menjadi salah satu potensi wisata sejarah yang memiliki nilai penting bagi Kabupaten Berau.

    Melalui pameran ini, Disbudpar ingin menunjukkan bahwa daya tarik wisata Bumi Batiwakkal tidak hanya bertumpu pada keindahan laut dan pulau-pulau eksotis, tetapi juga memiliki warisan prasejarah yang patut dikenal dan dilestarikan.

    Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan pemilihan Goa Bloyot sebagai tema stan bertujuan memperkenalkan potensi geowisata sekaligus meningkatkan perhatian masyarakat terhadap warisan bumi yang dimiliki daerah.

    "Goa Bloyot memiliki ciri khas tersendiri. Di sana terdapat lukisan atau cap tangan yang diperkirakan berusia sekitar 35 ribu hingga 40 ribu tahun. Keunikan ini menjadi salah satu potensi yang perlu kita perkenalkan kepada masyarakat," ujar
    Yudha.

    Ia menjelaskan bahwa Goa Bloyot merupakan salah satu geosite atau situs warisan bumi yang berada dalam kawasan Geopark Sangkulirang Mangkalihat, yang mencakup wilayah Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur. Meski memiliki nilai sejarah yang menarik, keberadaan Goa Bloyot masih belum banyak dikenal masyarakat luas. 

    "Ini jadi salah satu alasan kita memanfaatkan momentum Berau Expo 2026 untuk memperkenalkan situs prasejarah ini kepada pengunjung," kata Yudha.

    Sementara itu, Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda Disbudpar Berau, Asri Toldo, mengatakan pengenalan Goa Bloyot penting dilakukan agar masyarakat semakin mengetahui keberadaan dan potensi yang dimiliki kawasan tersebut.

    "Masih banyak pengunjung yang bertanya, di mana sebenarnya Goa Bloyot itu. Jadi kita manfaatkan momentum ini untuk memperkenalkan lebih luas," ungkap Asri.

    Dirinya pun menjelaskan, untuk mencapai lokasi Goa Bloyot, pengunjung harus berjalan kaki sekitar satu jam dari area Kampung Merabu dengan menyusuri kawasan hutan. Letaknya yang berada di pedalaman menjadi tantangan tersendiri dalam memperkenalkan situs tersebut kepada masyarakat.

    Selain itu, pelestarian Goa Bloyot juga menjadi perhatian. Dimana, lukisan tapak tangan pada dinding gua rentan mengalami kerusakan apabila tidak dijaga dengan baik, terutama akibat vandalisme maupun aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab.

    "Ini merupakan bagian dari prasejarah kita yang harus dijaga, dilestarikan, dan dilindungi. Kita perlu menghargai proses kehidupan manusia zaman dahulu, ketika mereka belum mengenal tulisan, tetapi sudah mengenal gambar dan bentuk ekspresi lainnya," terangnya.

    Oleh karena itu, Disbudpar Berau terus berupaya mempromosikan berbagai daya tarik wisata daerah, termasuk situs prasejarah yang berada dalam kawasan Geopark Sangkulirang Mangkalihat. Upaya ini diharapkan dapat memperluas pengenalan potensi wisata Berau di tingkat provinsi maupun nasional. Melalui Berau Expo 2026, Goa Bloyot diperkenalkan sebagai salah satu kekayaan Bumi Batiwakkal yang patut diketahui dan dihargai. 

    "Pengembangan potensi wisata ini juga perlu diiringi dengan upaya perlindungan agar peninggalan prasejarah tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Disbudpar Berau Angkat Goa Bloyot di Expo 2026, Kenalkan Warisan Prasejarah di Pedalaman Kelay

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    19 Oktober 2026 pukul 14:17 WITA

    Stan Disbudpar di Berau Expo 2026. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau mengangkat Goa Bloyot sebagai tema stan dalam Berau Expo 2026 untuk memperkenalkan kekayaan prasejarah yang tersimpan di pedalaman Kecamatan Kelay.

    Berada di kawasan hutan Kampung Merabu, Goa Bloyot menyimpan lukisan tapak tangan pada dinding gua yang diperkirakan berusia 35 ribu hingga 40 ribu tahun. Peninggalan tersebut menjadi salah satu potensi wisata sejarah yang memiliki nilai penting bagi Kabupaten Berau.

    Melalui pameran ini, Disbudpar ingin menunjukkan bahwa daya tarik wisata Bumi Batiwakkal tidak hanya bertumpu pada keindahan laut dan pulau-pulau eksotis, tetapi juga memiliki warisan prasejarah yang patut dikenal dan dilestarikan.

    Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan pemilihan Goa Bloyot sebagai tema stan bertujuan memperkenalkan potensi geowisata sekaligus meningkatkan perhatian masyarakat terhadap warisan bumi yang dimiliki daerah.

    "Goa Bloyot memiliki ciri khas tersendiri. Di sana terdapat lukisan atau cap tangan yang diperkirakan berusia sekitar 35 ribu hingga 40 ribu tahun. Keunikan ini menjadi salah satu potensi yang perlu kita perkenalkan kepada masyarakat," ujar
    Yudha.

    Ia menjelaskan bahwa Goa Bloyot merupakan salah satu geosite atau situs warisan bumi yang berada dalam kawasan Geopark Sangkulirang Mangkalihat, yang mencakup wilayah Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur. Meski memiliki nilai sejarah yang menarik, keberadaan Goa Bloyot masih belum banyak dikenal masyarakat luas. 

    "Ini jadi salah satu alasan kita memanfaatkan momentum Berau Expo 2026 untuk memperkenalkan situs prasejarah ini kepada pengunjung," kata Yudha.

    Sementara itu, Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda Disbudpar Berau, Asri Toldo, mengatakan pengenalan Goa Bloyot penting dilakukan agar masyarakat semakin mengetahui keberadaan dan potensi yang dimiliki kawasan tersebut.

    "Masih banyak pengunjung yang bertanya, di mana sebenarnya Goa Bloyot itu. Jadi kita manfaatkan momentum ini untuk memperkenalkan lebih luas," ungkap Asri.

    Dirinya pun menjelaskan, untuk mencapai lokasi Goa Bloyot, pengunjung harus berjalan kaki sekitar satu jam dari area Kampung Merabu dengan menyusuri kawasan hutan. Letaknya yang berada di pedalaman menjadi tantangan tersendiri dalam memperkenalkan situs tersebut kepada masyarakat.

    Selain itu, pelestarian Goa Bloyot juga menjadi perhatian. Dimana, lukisan tapak tangan pada dinding gua rentan mengalami kerusakan apabila tidak dijaga dengan baik, terutama akibat vandalisme maupun aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab.

    "Ini merupakan bagian dari prasejarah kita yang harus dijaga, dilestarikan, dan dilindungi. Kita perlu menghargai proses kehidupan manusia zaman dahulu, ketika mereka belum mengenal tulisan, tetapi sudah mengenal gambar dan bentuk ekspresi lainnya," terangnya.

    Oleh karena itu, Disbudpar Berau terus berupaya mempromosikan berbagai daya tarik wisata daerah, termasuk situs prasejarah yang berada dalam kawasan Geopark Sangkulirang Mangkalihat. Upaya ini diharapkan dapat memperluas pengenalan potensi wisata Berau di tingkat provinsi maupun nasional. Melalui Berau Expo 2026, Goa Bloyot diperkenalkan sebagai salah satu kekayaan Bumi Batiwakkal yang patut diketahui dan dihargai. 

    "Pengembangan potensi wisata ini juga perlu diiringi dengan upaya perlindungan agar peninggalan prasejarah tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)