Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Dilanda Kemarau, Produksi Tiga Komoditas Strategis Pertanian Berau Terancam Tak Capai Target

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    30 Agustus 2026 pukul 19:41 WITA

    Kepala DTPHP Berau, Lita Handini. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Kemarau panjang yang dipengaruhi kondisi El Nino mulai memberikan dampak terhadap produksi sejumlah komoditas pertanian di Kabupaten Berau. Kekeringan yang melanda tersebut membuat hasil panen di sejumlah wilayah menurun, sehingga target produksi padi tahun 2026 terancam tidak tercapai.

    Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau mencatat produksi tiga komoditas strategis, yakni padi, jagung, dan cabai, hingga Agustus 2026 baru mencapai sekitar 40-50 persen.

    Kepala DTPHP Berau, Lita Handini mengatakan, berdasarkan data capaian terbaru, produksi padi hingga Agustus 2026 baru mencapai sekitar 40 persen dari target yang ditetapkan.

    "Target kita untuk padi tahun 2026 itu sekitar 8.800 ton lebih, tetapi sampai sekarang capaiannya baru sekitar 40 persen. Kondisi panas ekstrem menyebabkan produksi di banyak lokasi menurun karena kekurangan air," kata Lita.

    Selain kekeringan, ia menyebut, kondisi cuaca yang panas dan angin cukup kencang juga meningkatkan serangan hama dan penyakit tanaman. Penyebaran penyakit menjadi lebih cepat sehingga sejumlah lahan tidak mampu menghasilkan panen secara maksimal.

    Beberapa wilayah yang terdampak di antaranya Buyung-Buyung dan Semurut. Di wilayah Merancang, sebagian besar tanaman bahkan mengalami kegagalan produksi. Sementara Tasuk dan Labanan masih mampu menghasilkan panen relatif baik, meski tetap mengalami penurunan dibanding kondisi normal.

    "Kalau biasanya Labanan itu empat sampai lima ton, sekarang mungkin sekitar tiga ton. Di Semurut yang biasanya dua sampai tiga ton, musim ini mungkin hanya sekitar satu ton, bahkan ada yang gagal," ujarnya.

    Tak hanya padi, dirinya mengatakan komoditas strategis lainnya seperti jagung dan cabai juga ikut terdampak. Petani jagung harus menunda penanaman karena masih menunggu hujan. Sedangkan tanaman cabai yang masih produktif dipertahankan melalui penyiraman.

    "Jadi kan prioritas strategis kita tiga ya, padi, jagung, sama cabai. Tiga-tiga ini menunjukkan penurunan, angkanya sampai bulan Agustus ini baru 40-50 persen. Padahal kan kita harusnya sudah 70-80an persen di bulan Agustus ini, harusnya," tuturnya.

    Oleh karena itu, ia menyampaikan bahwa kondisi ini menjadi perhatian pihaknya karena jika kemarau terus berlangsung, bukan hanya hasil produksi yang menurun, tetapi juga jadwal tanam dan panen petani akan ikut bergeser hingga tahun berikutnya.

    "Kondisi ini diperparah dengan semakin panjangnya musim kemarau. Hujan diperkirakan baru mulai turun sekitar Oktober, jadi jadwal tanam yang seharusnya berlangsung pada Agustus dan September berpotensi bergeser," katanya.

    Lita pun mengatakan pergeseran musim tanam tersebut juga akan berdampak terhadap produksi pada 2026. Sebab, tanaman yang baru ditanam pada Oktober hingga Desember diperkirakan baru memasuki masa panen pada 2027.

    "Kalau rencana tanam bergeser sampai Oktober, bahkan November atau Desember, panennya nanti baru di 2027. Itu yang menyebabkan produksi 2026 yang dihitung sampai Desember kemungkinan mengalami penurunan cukup drastis," tandasnya. (Adv) 

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Dilanda Kemarau, Produksi Tiga Komoditas Strategis Pertanian Berau Terancam Tak Capai Target

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    30 Agustus 2026 pukul 19:41 WITA

    Kepala DTPHP Berau, Lita Handini. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Kemarau panjang yang dipengaruhi kondisi El Nino mulai memberikan dampak terhadap produksi sejumlah komoditas pertanian di Kabupaten Berau. Kekeringan yang melanda tersebut membuat hasil panen di sejumlah wilayah menurun, sehingga target produksi padi tahun 2026 terancam tidak tercapai.

    Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau mencatat produksi tiga komoditas strategis, yakni padi, jagung, dan cabai, hingga Agustus 2026 baru mencapai sekitar 40-50 persen.

    Kepala DTPHP Berau, Lita Handini mengatakan, berdasarkan data capaian terbaru, produksi padi hingga Agustus 2026 baru mencapai sekitar 40 persen dari target yang ditetapkan.

    "Target kita untuk padi tahun 2026 itu sekitar 8.800 ton lebih, tetapi sampai sekarang capaiannya baru sekitar 40 persen. Kondisi panas ekstrem menyebabkan produksi di banyak lokasi menurun karena kekurangan air," kata Lita.

    Selain kekeringan, ia menyebut, kondisi cuaca yang panas dan angin cukup kencang juga meningkatkan serangan hama dan penyakit tanaman. Penyebaran penyakit menjadi lebih cepat sehingga sejumlah lahan tidak mampu menghasilkan panen secara maksimal.

    Beberapa wilayah yang terdampak di antaranya Buyung-Buyung dan Semurut. Di wilayah Merancang, sebagian besar tanaman bahkan mengalami kegagalan produksi. Sementara Tasuk dan Labanan masih mampu menghasilkan panen relatif baik, meski tetap mengalami penurunan dibanding kondisi normal.

    "Kalau biasanya Labanan itu empat sampai lima ton, sekarang mungkin sekitar tiga ton. Di Semurut yang biasanya dua sampai tiga ton, musim ini mungkin hanya sekitar satu ton, bahkan ada yang gagal," ujarnya.

    Tak hanya padi, dirinya mengatakan komoditas strategis lainnya seperti jagung dan cabai juga ikut terdampak. Petani jagung harus menunda penanaman karena masih menunggu hujan. Sedangkan tanaman cabai yang masih produktif dipertahankan melalui penyiraman.

    "Jadi kan prioritas strategis kita tiga ya, padi, jagung, sama cabai. Tiga-tiga ini menunjukkan penurunan, angkanya sampai bulan Agustus ini baru 40-50 persen. Padahal kan kita harusnya sudah 70-80an persen di bulan Agustus ini, harusnya," tuturnya.

    Oleh karena itu, ia menyampaikan bahwa kondisi ini menjadi perhatian pihaknya karena jika kemarau terus berlangsung, bukan hanya hasil produksi yang menurun, tetapi juga jadwal tanam dan panen petani akan ikut bergeser hingga tahun berikutnya.

    "Kondisi ini diperparah dengan semakin panjangnya musim kemarau. Hujan diperkirakan baru mulai turun sekitar Oktober, jadi jadwal tanam yang seharusnya berlangsung pada Agustus dan September berpotensi bergeser," katanya.

    Lita pun mengatakan pergeseran musim tanam tersebut juga akan berdampak terhadap produksi pada 2026. Sebab, tanaman yang baru ditanam pada Oktober hingga Desember diperkirakan baru memasuki masa panen pada 2027.

    "Kalau rencana tanam bergeser sampai Oktober, bahkan November atau Desember, panennya nanti baru di 2027. Itu yang menyebabkan produksi 2026 yang dihitung sampai Desember kemungkinan mengalami penurunan cukup drastis," tandasnya. (Adv) 

    (Sf/Rs)