Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau
Sapi Bali yang diternak di Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Pemilihan sapi Bali dalam beberapa program bantuan kepada peternak lokal bukan tanpa alasan. Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Berau menilai jenis sapi tersebut paling sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebiasaan masyarakat dalam memelihara ternak.
Kepala DTPHP Berau, Lita Handini, mengatakan sapi Bali memiliki kemampuan adaptasi yang baik sehingga lebih mudah dikembangkan di daerah baru. Jenis sapi ini juga dinilai lebih tahan terhadap penyakit dan tidak membutuhkan perawatan khusus.
"Sapi Bali ini paling tahan beradaptasi dengan lingkungan baru, lebih tahan penyakit dan pemeliharaannya gampang. Tidak perlu penanganan khusus seperti sapi jenis lain," kata Lita.
Ia menjelaskan bahwa kesesuaian tersebut menjadi penting karena sapi bantuan didatangkan dari daerah lain, termasuk Nusa Tenggara Barat (NTB). Proses pengiriman melalui jalur laut dapat memakan waktu hingga dua minggu sehingga dibutuhkan ternak dengan ketahanan fisik yang baik.
"Ketersediaan bibit sapi Bali juga relatif lebih mudah dibandingkan sejumlah jenis sapi luar yang populasinya masih terbatas di Indonesia. Faktor itu juga mendukung pemilihan sapi Bali dalam program bantuan ternak di Berau," terangnya.
Ia menjelaskan, karakter sapi Bali juga sesuai dengan pola pemeliharaan peternak lokal. Masyarakat umumnya menggembalakan ternak di sekitar area perkebunan. Dari sisi pakan, sapi Bali juga tidak terlalu selektif sehingga lebih mudah dipelihara.
"Peternak di Berau umumnya menggembalakan ternak di area perkebunan. Sapi Bali juga tidak pemilih dalam hal pakan dan dapat mengonsumsi berbagai jenis rumput hijauan," tuturnya.
Untuk memastikan ternak tetap sehat setelah tiba di Berau, DTPHP juga menerapkan tahapan karantina sebelum sapi diserahkan kepada penerima. Sapi telah menjalani karantina dan vaksinasi di daerah asal, kemudian kembali dikarantina selama dua hingga tiga hari di lokasi penerimaan awal.
Setelah tiba di kelompok tani, sapi kembali ditempatkan di kandang penampungan selama dua hingga tiga hari sebelum dibagikan kepada penerima atau dikelola dalam kandang kelompok.
"Pengawasan kemudian dilakukan secara intensif selama dua minggu hingga satu bulan pertama. Petugas teknis peternakan juga disiapkan untuk memantau kondisi sapi sekaligus membawa obat-obatan dan vitamin," tuturnya.
Lita pun mengatakan bahwa peternak juga mendapatkan pendampingan mengenai perawatan ternak, termasuk pemanfaatan rempah atau empon-empon seperti kunyit untuk membantu meningkatkan nafsu makan maupun menangani luka ringan.
"Kalau misalnya perlu pengobatan yang lebih serius, dokter hewan bisa langsung datang ke lokasi untuk membantu. Jadi terus dipantau, karena jangan sampai sapi yang baru datang ini nanti sakit atau bahkan mati," tandasnya. (Adv)
(Sf/Lo)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau

Sapi Bali yang diternak di Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Pemilihan sapi Bali dalam beberapa program bantuan kepada peternak lokal bukan tanpa alasan. Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Berau menilai jenis sapi tersebut paling sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebiasaan masyarakat dalam memelihara ternak.
Kepala DTPHP Berau, Lita Handini, mengatakan sapi Bali memiliki kemampuan adaptasi yang baik sehingga lebih mudah dikembangkan di daerah baru. Jenis sapi ini juga dinilai lebih tahan terhadap penyakit dan tidak membutuhkan perawatan khusus.
"Sapi Bali ini paling tahan beradaptasi dengan lingkungan baru, lebih tahan penyakit dan pemeliharaannya gampang. Tidak perlu penanganan khusus seperti sapi jenis lain," kata Lita.
Ia menjelaskan bahwa kesesuaian tersebut menjadi penting karena sapi bantuan didatangkan dari daerah lain, termasuk Nusa Tenggara Barat (NTB). Proses pengiriman melalui jalur laut dapat memakan waktu hingga dua minggu sehingga dibutuhkan ternak dengan ketahanan fisik yang baik.
"Ketersediaan bibit sapi Bali juga relatif lebih mudah dibandingkan sejumlah jenis sapi luar yang populasinya masih terbatas di Indonesia. Faktor itu juga mendukung pemilihan sapi Bali dalam program bantuan ternak di Berau," terangnya.
Ia menjelaskan, karakter sapi Bali juga sesuai dengan pola pemeliharaan peternak lokal. Masyarakat umumnya menggembalakan ternak di sekitar area perkebunan. Dari sisi pakan, sapi Bali juga tidak terlalu selektif sehingga lebih mudah dipelihara.
"Peternak di Berau umumnya menggembalakan ternak di area perkebunan. Sapi Bali juga tidak pemilih dalam hal pakan dan dapat mengonsumsi berbagai jenis rumput hijauan," tuturnya.
Untuk memastikan ternak tetap sehat setelah tiba di Berau, DTPHP juga menerapkan tahapan karantina sebelum sapi diserahkan kepada penerima. Sapi telah menjalani karantina dan vaksinasi di daerah asal, kemudian kembali dikarantina selama dua hingga tiga hari di lokasi penerimaan awal.
Setelah tiba di kelompok tani, sapi kembali ditempatkan di kandang penampungan selama dua hingga tiga hari sebelum dibagikan kepada penerima atau dikelola dalam kandang kelompok.
"Pengawasan kemudian dilakukan secara intensif selama dua minggu hingga satu bulan pertama. Petugas teknis peternakan juga disiapkan untuk memantau kondisi sapi sekaligus membawa obat-obatan dan vitamin," tuturnya.
Lita pun mengatakan bahwa peternak juga mendapatkan pendampingan mengenai perawatan ternak, termasuk pemanfaatan rempah atau empon-empon seperti kunyit untuk membantu meningkatkan nafsu makan maupun menangani luka ringan.
"Kalau misalnya perlu pengobatan yang lebih serius, dokter hewan bisa langsung datang ke lokasi untuk membantu. Jadi terus dipantau, karena jangan sampai sapi yang baru datang ini nanti sakit atau bahkan mati," tandasnya. (Adv)
(Sf/Lo)