Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau
Kakao. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Kabupaten Berau mulai memperkuat arah pembangunan sektor industri berbasis hilirisasi komoditas unggulan daerah. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi lokal, sekaligus mengurangi ketergantungan pada penjualan hasil perkebunan dalam bentuk bahan mentah.
Melalui Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Berau, pemerintah daerah menargetkan pengembangan industri pengolahan yang berfokus pada komoditas kakao dan kelapa. Kedua komoditas tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk turunan bernilai ekonomi tinggi yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
Kepala Bidang Perindustrian Diskoperindag Berau, Reta Noratni, menjelaskan bahwa saat ini pemerintah daerah telah menetapkan tiga komoditas unggulan, yakni kakao, kelapa, dan jagung.
"Untuk tahap awal program hilirisasi ini difokuskan pada dua komoditas terlebih dahulu yaitu kakao dan kelapa. Sebenarnya Berau ini punya tiga sektor unggulan, selain kedua sektor tersebut ada juga jagung," ujar Reta.
Ia menyebut, selama ini sebagian besar hasil kakao dan kelapa masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku sehingga nilai tambah ekonominya lebih banyak dinikmati oleh daerah lain yang memiliki industri pengolahan lebih maju.
"Akibatnya, nilai tambah dari proses pengolahan justru dinikmati oleh daerah lain yang memiliki industri pengolahan lebih berkembang. Kondisi itu yang menyebabkan nilai ekonomi kakao dan kelapa belum optimal karena proses pengolahan berlangsung di luar daerah," jelasnya.
Oleh karena itu, dirinya mengatakan melalui kebijakan hilirisasi, pemerintah daerah pun mendorong tumbuhnya industri pengolahan di tingkat lokal agar komoditas perkebunan tidak hanya berhenti pada tahap produksi primer.
"Hasil perkebunan ini diharapkan dapat diolah menjadi produk setengah jadi maupun produk siap konsumsi dengan nilai jual lebih tinggi," tuturnya.
Menurutnya, langkah ini juga dapat memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah, mulai dari peningkatan pendapatan petani hingga terbukanya lapangan kerja baru serta peluang investasi di sektor industri berbasis sumber daya lokal.
Sementara itu, komoditas jagung masih berada dalam tahap kajian lebih lanjut terkait kesiapan produksi, infrastruktur pendukung, serta potensi pasar sebelum masuk ke program hilirisasi secara penuh.
Reta menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Berau optimistis penguatan industri berbasis kakao, kelapa, dan jagung dapat menjadi fondasi baru bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
"Kami berharap perputaran ekonomi dapat tetap berada di daerah sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Semoga semuanya berjalan sesuai visi misi Pemerintah Berau juga," tutupnya. (Adv)
(Sf/Lo)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau

Kakao. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Kabupaten Berau mulai memperkuat arah pembangunan sektor industri berbasis hilirisasi komoditas unggulan daerah. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi lokal, sekaligus mengurangi ketergantungan pada penjualan hasil perkebunan dalam bentuk bahan mentah.
Melalui Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Berau, pemerintah daerah menargetkan pengembangan industri pengolahan yang berfokus pada komoditas kakao dan kelapa. Kedua komoditas tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk turunan bernilai ekonomi tinggi yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
Kepala Bidang Perindustrian Diskoperindag Berau, Reta Noratni, menjelaskan bahwa saat ini pemerintah daerah telah menetapkan tiga komoditas unggulan, yakni kakao, kelapa, dan jagung.
"Untuk tahap awal program hilirisasi ini difokuskan pada dua komoditas terlebih dahulu yaitu kakao dan kelapa. Sebenarnya Berau ini punya tiga sektor unggulan, selain kedua sektor tersebut ada juga jagung," ujar Reta.
Ia menyebut, selama ini sebagian besar hasil kakao dan kelapa masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku sehingga nilai tambah ekonominya lebih banyak dinikmati oleh daerah lain yang memiliki industri pengolahan lebih maju.
"Akibatnya, nilai tambah dari proses pengolahan justru dinikmati oleh daerah lain yang memiliki industri pengolahan lebih berkembang. Kondisi itu yang menyebabkan nilai ekonomi kakao dan kelapa belum optimal karena proses pengolahan berlangsung di luar daerah," jelasnya.
Oleh karena itu, dirinya mengatakan melalui kebijakan hilirisasi, pemerintah daerah pun mendorong tumbuhnya industri pengolahan di tingkat lokal agar komoditas perkebunan tidak hanya berhenti pada tahap produksi primer.
"Hasil perkebunan ini diharapkan dapat diolah menjadi produk setengah jadi maupun produk siap konsumsi dengan nilai jual lebih tinggi," tuturnya.
Menurutnya, langkah ini juga dapat memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah, mulai dari peningkatan pendapatan petani hingga terbukanya lapangan kerja baru serta peluang investasi di sektor industri berbasis sumber daya lokal.
Sementara itu, komoditas jagung masih berada dalam tahap kajian lebih lanjut terkait kesiapan produksi, infrastruktur pendukung, serta potensi pasar sebelum masuk ke program hilirisasi secara penuh.
Reta menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Berau optimistis penguatan industri berbasis kakao, kelapa, dan jagung dapat menjadi fondasi baru bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
"Kami berharap perputaran ekonomi dapat tetap berada di daerah sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Semoga semuanya berjalan sesuai visi misi Pemerintah Berau juga," tutupnya. (Adv)
(Sf/Lo)