Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Bedah Buku "Burakat Banua", Dispusip Perkuat Pelestarian Sejarah dan Budaya Lokal Berau

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    30 Juni 2026 pukul 16:04 WITA

    Kegiatan bedah buku "Burakat Banua", di Gedung Perpustakaan Dispusip Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Berau terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga, mendokumentasikan, dan melestarikan sejarah serta adat istiadat daerah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggelar bedah buku "Burakat Banua"  yang menghadirkan dua narasumber, Rohaini dan Agustiah, di Gedung Perpustakaan Dispusip Berau, Selasa (30/6/2026).

    Kepala Dispusip Berau, Rabiatul Islamiah, mengatakan buku "Burakat Banua" memiliki makna penting sebagai sumber pengetahuan mengenai akar sejarah Kabupaten Berau. Menurutnya, kata "burakat" berarti akar atau asal-usul, sehingga buku tersebut mengulas perjalanan sejarah daerah, termasuk asal-usul Sambaliung maupun Berau.

    "Ini merupakan warisan yang sangat berharga bagi generasi sekarang maupun yang akan datang karena memuat sejarah, adat istiadat, budaya, bahasa, hingga kekayaan alam yang dimiliki daerah kita," ujar Rabiatul.

    Ia berharap, buku tersebut dapat menjadi referensi utama bagi para pemustaka, peneliti, akademisi, maupun masyarakat yang ingin memahami lebih dalam sejarah dan budaya lokal Berau.

    "Melalui bedah buku ini saya berharap isi buku menjadi referensi dan sumber rujukan, khususnya bagi pemustaka, peneliti, maupun masyarakat umum yang ingin mengetahui dan menggali sejarah serta budaya yang ada di Kabupaten Berau," katanya.

    Sementara itu, di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang sedang diterapkan pemerintah, Dispusip tetap berkomitmen memfasilitasi penerbitan buku-buku bermuatan lokal. 

    "Banyak penulis yang ingin mendaftarkan bukunya, sehingga dengan keterbatasan yang ada kami akan memprogramkannya secara bertahap sesuai kemampuan anggaran," jelasnya.

    Selain fokus pada pelestarian literasi lokal, Dispusip juga terus berupaya mengubah pandangan masyarakat mengenai fungsi perpustakaan. Menurutnya, perpustakaan modern tidak lagi hanya menjadi tempat membaca buku, tetapi telah berkembang menjadi ruang publik yang mendukung kreativitas, diskusi, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

    "Masih banyak masyarakat yang menganggap perpustakaan hanya tempat membaca buku. Padahal sekarang perpustakaan adalah ruang yang bisa dimanfaatkan untuk berdiskusi, berkegiatan, belajar bersama, bahkan kami juga ingin melibatkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar bisa berjualan di area perpustakaan sehingga manfaatnya semakin luas bagi masyarakat," ungkapnya.

    Menurut Rabiatul, keberadaan perpustakaan harus mampu menjadi pusat pembelajaran sekaligus ruang tumbuh bagi masyarakat. Literasi dinilai menjadi fondasi dalam membangun ilmu pengetahuan, karakter, dan peradaban.

    "Perpustakaan manfaatnya sangat luas bagi orang banyak. Buku adalah jendela dunia. Dari literasi itulah kita membangun ilmu, dan dari ilmu lahirlah adab yang akan membawa kemajuan bagi masyarakat. Mari manfaatkan perpustakaan sebaik-baiknya serta bersama-sama menjaga dan melestarikan budaya lokal demi masa depan Kabupaten Berau," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Bedah Buku "Burakat Banua", Dispusip Perkuat Pelestarian Sejarah dan Budaya Lokal Berau

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    30 Juni 2026 pukul 16:04 WITA

    Kegiatan bedah buku "Burakat Banua", di Gedung Perpustakaan Dispusip Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Berau terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga, mendokumentasikan, dan melestarikan sejarah serta adat istiadat daerah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggelar bedah buku "Burakat Banua"  yang menghadirkan dua narasumber, Rohaini dan Agustiah, di Gedung Perpustakaan Dispusip Berau, Selasa (30/6/2026).

    Kepala Dispusip Berau, Rabiatul Islamiah, mengatakan buku "Burakat Banua" memiliki makna penting sebagai sumber pengetahuan mengenai akar sejarah Kabupaten Berau. Menurutnya, kata "burakat" berarti akar atau asal-usul, sehingga buku tersebut mengulas perjalanan sejarah daerah, termasuk asal-usul Sambaliung maupun Berau.

    "Ini merupakan warisan yang sangat berharga bagi generasi sekarang maupun yang akan datang karena memuat sejarah, adat istiadat, budaya, bahasa, hingga kekayaan alam yang dimiliki daerah kita," ujar Rabiatul.

    Ia berharap, buku tersebut dapat menjadi referensi utama bagi para pemustaka, peneliti, akademisi, maupun masyarakat yang ingin memahami lebih dalam sejarah dan budaya lokal Berau.

    "Melalui bedah buku ini saya berharap isi buku menjadi referensi dan sumber rujukan, khususnya bagi pemustaka, peneliti, maupun masyarakat umum yang ingin mengetahui dan menggali sejarah serta budaya yang ada di Kabupaten Berau," katanya.

    Sementara itu, di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang sedang diterapkan pemerintah, Dispusip tetap berkomitmen memfasilitasi penerbitan buku-buku bermuatan lokal. 

    "Banyak penulis yang ingin mendaftarkan bukunya, sehingga dengan keterbatasan yang ada kami akan memprogramkannya secara bertahap sesuai kemampuan anggaran," jelasnya.

    Selain fokus pada pelestarian literasi lokal, Dispusip juga terus berupaya mengubah pandangan masyarakat mengenai fungsi perpustakaan. Menurutnya, perpustakaan modern tidak lagi hanya menjadi tempat membaca buku, tetapi telah berkembang menjadi ruang publik yang mendukung kreativitas, diskusi, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

    "Masih banyak masyarakat yang menganggap perpustakaan hanya tempat membaca buku. Padahal sekarang perpustakaan adalah ruang yang bisa dimanfaatkan untuk berdiskusi, berkegiatan, belajar bersama, bahkan kami juga ingin melibatkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar bisa berjualan di area perpustakaan sehingga manfaatnya semakin luas bagi masyarakat," ungkapnya.

    Menurut Rabiatul, keberadaan perpustakaan harus mampu menjadi pusat pembelajaran sekaligus ruang tumbuh bagi masyarakat. Literasi dinilai menjadi fondasi dalam membangun ilmu pengetahuan, karakter, dan peradaban.

    "Perpustakaan manfaatnya sangat luas bagi orang banyak. Buku adalah jendela dunia. Dari literasi itulah kita membangun ilmu, dan dari ilmu lahirlah adab yang akan membawa kemajuan bagi masyarakat. Mari manfaatkan perpustakaan sebaik-baiknya serta bersama-sama menjaga dan melestarikan budaya lokal demi masa depan Kabupaten Berau," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)