Cari disini...

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bontang
Waka Kurikulum SMPN 2 Bontang, Jumadi. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)
Bontang - Pelajar disabilitas di SMPN 2 Bontang tengah bersiap mengikuti Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) 2025.
Wakil Kepala (Waka) Kurikulum SMPN 2 Bontang, Jumadi mengatakan kini pihaknya masih dalam tahap mempersiapkan seleksi untuk melihat Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang memiliki kemampuan untuk mengikuti lomba.
“Kami akan pertimbangkan dulu dari semua kategori yang ada kira-kira mana anak yang memang punya kemampuan di bidang itu,” ujarnya.
Ia menjelakan SMPN 2 Bontang kini mempunyai 24 pelajar ABK yang rata-rata memiliki keterlambatan belajar. Olimpiade FLS3N untuk pertama kalinya dilaksanakan tahun ini dan fokus pada kompetisi seni dan sastra pelajar.
Setelah tahap seleksi di sekolah, ABK yang lolos akan dibina serta diberi pelatihan untuk mematangkan kemampuan mereka dalam
mengikuti olimpiade.
“Setelah itu kita menunggu jadwal dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang untuk jadwal pendaftaran dan seleksi tingkat kota,” kata dia.
SPMN 2 telah ditunjuk sebagai sekolah inklusi sejak beberapa tahun lalu, sekolah ini sudah lama aktif mengirimkan peserta didik ABK untuk mengikuti berbagai lomba ditingkat kota.
Selama ini peserta didik disabilitas juga mengikuti program pelatihan seni dan budaya di sekolah guna mempersiapkan ABK mengikuti berbagai perlombaan yang ada.
“Mereka sering ikut lomba tapi kebanyakan tingkat kota, seperti tari tradisional dan lain-lain,” tandasnya. (Adv)
(Sf/Lo)
Cari disini...

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bontang

Waka Kurikulum SMPN 2 Bontang, Jumadi. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)
Bontang - Pelajar disabilitas di SMPN 2 Bontang tengah bersiap mengikuti Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) 2025.
Wakil Kepala (Waka) Kurikulum SMPN 2 Bontang, Jumadi mengatakan kini pihaknya masih dalam tahap mempersiapkan seleksi untuk melihat Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang memiliki kemampuan untuk mengikuti lomba.
“Kami akan pertimbangkan dulu dari semua kategori yang ada kira-kira mana anak yang memang punya kemampuan di bidang itu,” ujarnya.
Ia menjelakan SMPN 2 Bontang kini mempunyai 24 pelajar ABK yang rata-rata memiliki keterlambatan belajar. Olimpiade FLS3N untuk pertama kalinya dilaksanakan tahun ini dan fokus pada kompetisi seni dan sastra pelajar.
Setelah tahap seleksi di sekolah, ABK yang lolos akan dibina serta diberi pelatihan untuk mematangkan kemampuan mereka dalam
mengikuti olimpiade.
“Setelah itu kita menunggu jadwal dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang untuk jadwal pendaftaran dan seleksi tingkat kota,” kata dia.
SPMN 2 telah ditunjuk sebagai sekolah inklusi sejak beberapa tahun lalu, sekolah ini sudah lama aktif mengirimkan peserta didik ABK untuk mengikuti berbagai lomba ditingkat kota.
Selama ini peserta didik disabilitas juga mengikuti program pelatihan seni dan budaya di sekolah guna mempersiapkan ABK mengikuti berbagai perlombaan yang ada.
“Mereka sering ikut lomba tapi kebanyakan tingkat kota, seperti tari tradisional dan lain-lain,” tandasnya. (Adv)
(Sf/Lo)