Cari disini...
Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur
Atraksi menanam mangrove di Hutan Mangrove Margomulyo yang dikunjungi oleh wisatawan mancanegara dan Komunitas World Clean Up Day. (Foto: HO/Fatur-Ketua WCUD)
Samarinda - Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memaparkan strategi atraksi wisata agar menarik minat dan perhatian wisatawan untuk mengunjungi suatu destinasi atau objek wisata, khususnya ekowisata hutan mangrove.
Kepala Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Dispar Kaltim, Restiawan Baihaqi menyebut ada dua strategi pemasaran dalam atraksi ekowisata hutan mangrove, yakni dalam bentuk atraksi hidup dan atraksi mati.
"Atraksi itu bisa hidup atau mati, dengan menyesuaikan kebutuhan dan preferensi wisatawan," ungkap Baihaqi saat ditemui di Kantor Dispar Kaltim, Rabu (1/11/2023).
Baihaqi menjabarkan, untuk mendapatkan preferensi wisatawan itu harus melalui riset pasar, segmentasi pasar, penentuan target pasar, posisi pasar, atau diferensiasi pasar. Setelah riset, juga harus memperhatikan keunggulan kompetitif yang membedakannya dari destinasi atau objek wisata lainnya.
"Misalnya, sering kita temui mangrove inikan melihat alamnya saja. Untuk itu, ditambahkan dengan atraksi mati, yakni barcode wisata yang berisi video atau penjelasan yang lebih detil soal mangrove. Atau ditambah both foto yang lebih lengkap, itu juga termasuk atraksi mati," bebernya.
Selain itu, Baihaqi menambahkan atraksi wisata ini untuk dapat dilihat, didengar, dirasakan, bahkan bisa dialami oleh wisatawan di destinasi mangrove.
"Contohnya misalkan wisatanya ingin mengalami langsung bagaimana mangrove ini bisa tumbuh, adanya penyediaan atraksi hidup seperti kegiatan penanaman mangrove atau adanya program konservasi mangrove, ini kan experience yang bisa didapat," beber Baihaqi.
Ia menyarankan kepada pihak pengembang ekowisata hutan mangrove, apabila ada atraksi hidup, misalkan adanya tari-tarian bisa bermitra dengan pihak lain.
"Mitra dan stakeholder ini dapat berupa pemerintah, swasta, komunitas lokal, media massa, akademisi, asosiasi pariwisata, atau organisasi non-pemerintah, sehingga dapat melancarkan promosi atraksi ini," tukasnya.
(Sf/Rs/Adv)
Cari disini...
Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur

Atraksi menanam mangrove di Hutan Mangrove Margomulyo yang dikunjungi oleh wisatawan mancanegara dan Komunitas World Clean Up Day. (Foto: HO/Fatur-Ketua WCUD)
Samarinda - Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memaparkan strategi atraksi wisata agar menarik minat dan perhatian wisatawan untuk mengunjungi suatu destinasi atau objek wisata, khususnya ekowisata hutan mangrove.
Kepala Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Dispar Kaltim, Restiawan Baihaqi menyebut ada dua strategi pemasaran dalam atraksi ekowisata hutan mangrove, yakni dalam bentuk atraksi hidup dan atraksi mati.
"Atraksi itu bisa hidup atau mati, dengan menyesuaikan kebutuhan dan preferensi wisatawan," ungkap Baihaqi saat ditemui di Kantor Dispar Kaltim, Rabu (1/11/2023).
Baihaqi menjabarkan, untuk mendapatkan preferensi wisatawan itu harus melalui riset pasar, segmentasi pasar, penentuan target pasar, posisi pasar, atau diferensiasi pasar. Setelah riset, juga harus memperhatikan keunggulan kompetitif yang membedakannya dari destinasi atau objek wisata lainnya.
"Misalnya, sering kita temui mangrove inikan melihat alamnya saja. Untuk itu, ditambahkan dengan atraksi mati, yakni barcode wisata yang berisi video atau penjelasan yang lebih detil soal mangrove. Atau ditambah both foto yang lebih lengkap, itu juga termasuk atraksi mati," bebernya.
Selain itu, Baihaqi menambahkan atraksi wisata ini untuk dapat dilihat, didengar, dirasakan, bahkan bisa dialami oleh wisatawan di destinasi mangrove.
"Contohnya misalkan wisatanya ingin mengalami langsung bagaimana mangrove ini bisa tumbuh, adanya penyediaan atraksi hidup seperti kegiatan penanaman mangrove atau adanya program konservasi mangrove, ini kan experience yang bisa didapat," beber Baihaqi.
Ia menyarankan kepada pihak pengembang ekowisata hutan mangrove, apabila ada atraksi hidup, misalkan adanya tari-tarian bisa bermitra dengan pihak lain.
"Mitra dan stakeholder ini dapat berupa pemerintah, swasta, komunitas lokal, media massa, akademisi, asosiasi pariwisata, atau organisasi non-pemerintah, sehingga dapat melancarkan promosi atraksi ini," tukasnya.
(Sf/Rs/Adv)