Cari disini...
Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur
Hutan Lindung Wehea, foto yang diambil dari atas. (Foto: HO/ExoticKaltim)
Samarinda - Hutan Wehea, sebuah kawasan hutan hujan seluas 38.000 hektare yang terletak di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Hutan ini dinyatakan sebagai 'hutan lindung' pada tahun 2004 oleh Dayak Wehea, masyarakat adat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut. Proyek ini menerima Penghargaan Kalpataru pada tahun 2009, penghargaan tertinggi lingkungan hidup Indonesia.
Hutan Wehea memiliki potensi keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, baik jenis flora maupun fauna. Dikutip dari Penabulu Foundation di sini ditemukan berbagai spesies pohon, anggrek, jamur, liana, rotan, primata, mamalia, hingga burung. Salah satu spesies yang paling terancam punah di Indonesia adalah orangutan, yang hidup secara terisolasi di hutan-hutan hujan seperti Wehea. Selain itu, hutan ini juga merupakan habitat bagi macan dahan Sunda dan beruang madu.
Untuk menjaga kelestarian kawasan hutan ini, Badan Pengelola Hutan Lindung Wehea (BP Huliwa) dibentuk pada tahun 2005 dengan melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat adat. BP Huliwa bertugas untuk melakukan pemantapan status fungsi kawasan dan pengamanan kawasan, pelestarian peran dan fungsi kawasan sebagai sumber daya alam dan budaya lokal, pemberdayaan dan penguatan kelembagaan masyarakat adat dalam pengelolaan kawasan, serta pengembangan jejaring informasi, kemitraan, dan pendanaan.
Salah satu upaya BP Huliwa adalah melakukan eksplorasi ringan terhadap sebagian wilayah kawasan untuk mengetahui kondisi flora dan fauna secara lebih detail. Eksplorasi ringan dilakukan dengan cara mengambil sampel tanaman atau hewan dari lokasi-lokasi tertentu dengan memperhatikan aspek etika dan keselamatan. Hasil eksplorasi ringan ini dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk merencanakan program-program pengembangan kawasan.
Selain itu, BP Huliwa juga berupaya untuk meningkatkan kapasitas masyarakat adat dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan. Masyarakat adat memiliki pengetahuan tradisional tentang manfaat-manfaat alami dari tanaman atau hewan yang ada di hutan. Dengan demikian, mereka dapat menjadi mitra BP Huliwa dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan menghindari potensi bentangan alam.
Wawan dan Dimas Prasetyo, Pemenang kompetisi #CeritaDariHutan, berkesempatan mengunjungi hutan ini, ia membagikan pengalamannya. Dari Jakarta menuju Berau, dilanjutkan ke Kutim dengan menghabiskan waktu 5 - 6 jam perjalanan.
Memasuki hutan itu, mereka bersama rombongan petualangan langsung memasang tenda, karena waktu sudah menunjukkan sore. Setelahnya, mereka menuju ke air terjun kelelawar, disana suasana yang tenang dan airnya segar, membuat hutan ini dikatakan sebagai paket lengkap untuk petualang.
"Segar banget airnya, ini kesan yang tak akan pernah dilupakan. Disini juga terdapat ikan kecil-kecil untuk memakan sel-sel yang mati pada kulit kita, berasa seperti terapi gratis ya," ungkap Presenter kanal youtube Hutan itu Indonesia, Wicky Adrian dalam video yang berdurasi 23 menit itu.
Tak hanya itu, petualangan mereka juga menemukan pohon paling besar, yakni pohon meranti merah, pohon endemik Kalimantan ini memiliki diameter 2 sampai 3 meter panjangnya.
"Untuk mengitari pohon ini mungkin diperlukan 12 orang lebih, dan dilihat dari usia, ini sudah mencapai ratusan tahun, semoga banyak lagi meranti-meranti merah lainnya banyak tumbuh di hutan Kalimantan kita," imbuhnya.
Sementara itu, Penjaga Hutan Lindung Wehea, Umar menyebut selama sembilan tahun ia disana, memberikan kesan terhadap pengalamannya yang dapat ia bagikan ke seluruh Indonesia.
"Saya senang dapat bercerita dapat menjaga hutan ini, dan mengabarkan kepada seluruh Indonesia bahwa hutan ini masih tetap terjaga," pungkas Umar.
(Sf/Rs/Adv)
Cari disini...
Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur

Hutan Lindung Wehea, foto yang diambil dari atas. (Foto: HO/ExoticKaltim)
Samarinda - Hutan Wehea, sebuah kawasan hutan hujan seluas 38.000 hektare yang terletak di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Hutan ini dinyatakan sebagai 'hutan lindung' pada tahun 2004 oleh Dayak Wehea, masyarakat adat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut. Proyek ini menerima Penghargaan Kalpataru pada tahun 2009, penghargaan tertinggi lingkungan hidup Indonesia.
Hutan Wehea memiliki potensi keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, baik jenis flora maupun fauna. Dikutip dari Penabulu Foundation di sini ditemukan berbagai spesies pohon, anggrek, jamur, liana, rotan, primata, mamalia, hingga burung. Salah satu spesies yang paling terancam punah di Indonesia adalah orangutan, yang hidup secara terisolasi di hutan-hutan hujan seperti Wehea. Selain itu, hutan ini juga merupakan habitat bagi macan dahan Sunda dan beruang madu.
Untuk menjaga kelestarian kawasan hutan ini, Badan Pengelola Hutan Lindung Wehea (BP Huliwa) dibentuk pada tahun 2005 dengan melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat adat. BP Huliwa bertugas untuk melakukan pemantapan status fungsi kawasan dan pengamanan kawasan, pelestarian peran dan fungsi kawasan sebagai sumber daya alam dan budaya lokal, pemberdayaan dan penguatan kelembagaan masyarakat adat dalam pengelolaan kawasan, serta pengembangan jejaring informasi, kemitraan, dan pendanaan.
Salah satu upaya BP Huliwa adalah melakukan eksplorasi ringan terhadap sebagian wilayah kawasan untuk mengetahui kondisi flora dan fauna secara lebih detail. Eksplorasi ringan dilakukan dengan cara mengambil sampel tanaman atau hewan dari lokasi-lokasi tertentu dengan memperhatikan aspek etika dan keselamatan. Hasil eksplorasi ringan ini dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk merencanakan program-program pengembangan kawasan.
Selain itu, BP Huliwa juga berupaya untuk meningkatkan kapasitas masyarakat adat dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan. Masyarakat adat memiliki pengetahuan tradisional tentang manfaat-manfaat alami dari tanaman atau hewan yang ada di hutan. Dengan demikian, mereka dapat menjadi mitra BP Huliwa dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan menghindari potensi bentangan alam.
Wawan dan Dimas Prasetyo, Pemenang kompetisi #CeritaDariHutan, berkesempatan mengunjungi hutan ini, ia membagikan pengalamannya. Dari Jakarta menuju Berau, dilanjutkan ke Kutim dengan menghabiskan waktu 5 - 6 jam perjalanan.
Memasuki hutan itu, mereka bersama rombongan petualangan langsung memasang tenda, karena waktu sudah menunjukkan sore. Setelahnya, mereka menuju ke air terjun kelelawar, disana suasana yang tenang dan airnya segar, membuat hutan ini dikatakan sebagai paket lengkap untuk petualang.
"Segar banget airnya, ini kesan yang tak akan pernah dilupakan. Disini juga terdapat ikan kecil-kecil untuk memakan sel-sel yang mati pada kulit kita, berasa seperti terapi gratis ya," ungkap Presenter kanal youtube Hutan itu Indonesia, Wicky Adrian dalam video yang berdurasi 23 menit itu.
Tak hanya itu, petualangan mereka juga menemukan pohon paling besar, yakni pohon meranti merah, pohon endemik Kalimantan ini memiliki diameter 2 sampai 3 meter panjangnya.
"Untuk mengitari pohon ini mungkin diperlukan 12 orang lebih, dan dilihat dari usia, ini sudah mencapai ratusan tahun, semoga banyak lagi meranti-meranti merah lainnya banyak tumbuh di hutan Kalimantan kita," imbuhnya.
Sementara itu, Penjaga Hutan Lindung Wehea, Umar menyebut selama sembilan tahun ia disana, memberikan kesan terhadap pengalamannya yang dapat ia bagikan ke seluruh Indonesia.
"Saya senang dapat bercerita dapat menjaga hutan ini, dan mengabarkan kepada seluruh Indonesia bahwa hutan ini masih tetap terjaga," pungkas Umar.
(Sf/Rs/Adv)