Cari disini...
Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur
Pencarian kerang tudai di pinggir muara sungai sangkulirang. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Sangatta - Muara Sungai di Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur rupanya sebagai tempat berburu sumber daya alam oleh masyarakat setempat. Pada muara sungai ini banyak sekali potensi alam yang bernilai ekologis maupun ekonomis, dan juga bisa sebagai tempat pariwisata pendidikan.
Hal itu ditunjukkan banyak sekali potensi alam flora dan fauna, seperti burung cendrawasih, monyet aye-aye atau sebagainya. Selain itu, ada beberapa sumber daya alam yang ada di Muara Sungai Sangkulirang antara lain adalah kayu, non-kayu, batuan mineral, batu kapur, bahan semen, air bersih, dan energi terbarukan.
Namun, berbeda yang dilakukan oleh warga dari desa susuk muara ini, Jusmar justru mencari harta karun lainnya, yakni kerang tudai.
Bersama seputarfakta melakukan penyusuran sungai dari teluk desa susuk luar dengan menggunakan kapal kecil menuju desa lumut dengan jarak 10 kilometer panjangnya, disana terdapat banyaknya kerang tudai. Melewati banyak pohon bakau dan pohon api-api, disini penulis menikmati keindahan alam yang masih asri.
"Kita bisa dapat dua karung kerang tudai mas, tidak perlu waktu lama, karena di setiap sisi pepohonan dan pinggir-pinggir sini banyak," ungkap Jusmar kepada seputarfakta.com, di Kutai Timur, Jum'at (10/11/2023).
Sebenarnya, perjalanan masuk ke dalam muara tersebut bisa menggunakan jalur darat, menggunakan motor dengan jarak yang sama. Untuk, menikmati suasana air dan pepohonan lebih terasa menggunakan kapal.
Hal yang sama, dikutip melalui tribun Kaltim, pernah diungkapkan oleh Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Timur, Nurullah, penyusuran muara dilakukan untuk mengumpulkan kerang yang sudah mati atau hampir mati.
"Kami sudah memanfaatkan teknologi digital untuk memantau kondisi kerang di sungai. Kami juga memberikan bantuan kepada petani ikan untuk menjaga kesehatan dan produktivitas kerang mereka," ujarnya.
Nurullah mengatakan, proses penyusuran muara dilakukan dengan cara menyusuri sepanjang 2 kilometer dari titik asal hingga titik tujuan.
"Kami menggunakan alat-alat seperti truk, kantong plastik, dan ember untuk mengangkut dan menyimpan kerang. Kami juga memberikan insentif kepada petani ikan yang berhasil menemukan banyak kerang," katanya.
Nurullah berharap, dengan penyusuran muara ini, masyarakat Sangkulirang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka.
"Kami juga berharap, dengan menyediakan kerang yang berkualitas dan bersertifikat halal, kami dapat meningkatkan daya saing produk ikan lokal kami di pasar," tuturnya.
(Sf/Rs/Adv)
Cari disini...
Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur

Pencarian kerang tudai di pinggir muara sungai sangkulirang. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Sangatta - Muara Sungai di Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur rupanya sebagai tempat berburu sumber daya alam oleh masyarakat setempat. Pada muara sungai ini banyak sekali potensi alam yang bernilai ekologis maupun ekonomis, dan juga bisa sebagai tempat pariwisata pendidikan.
Hal itu ditunjukkan banyak sekali potensi alam flora dan fauna, seperti burung cendrawasih, monyet aye-aye atau sebagainya. Selain itu, ada beberapa sumber daya alam yang ada di Muara Sungai Sangkulirang antara lain adalah kayu, non-kayu, batuan mineral, batu kapur, bahan semen, air bersih, dan energi terbarukan.
Namun, berbeda yang dilakukan oleh warga dari desa susuk muara ini, Jusmar justru mencari harta karun lainnya, yakni kerang tudai.
Bersama seputarfakta melakukan penyusuran sungai dari teluk desa susuk luar dengan menggunakan kapal kecil menuju desa lumut dengan jarak 10 kilometer panjangnya, disana terdapat banyaknya kerang tudai. Melewati banyak pohon bakau dan pohon api-api, disini penulis menikmati keindahan alam yang masih asri.
"Kita bisa dapat dua karung kerang tudai mas, tidak perlu waktu lama, karena di setiap sisi pepohonan dan pinggir-pinggir sini banyak," ungkap Jusmar kepada seputarfakta.com, di Kutai Timur, Jum'at (10/11/2023).
Sebenarnya, perjalanan masuk ke dalam muara tersebut bisa menggunakan jalur darat, menggunakan motor dengan jarak yang sama. Untuk, menikmati suasana air dan pepohonan lebih terasa menggunakan kapal.
Hal yang sama, dikutip melalui tribun Kaltim, pernah diungkapkan oleh Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Timur, Nurullah, penyusuran muara dilakukan untuk mengumpulkan kerang yang sudah mati atau hampir mati.
"Kami sudah memanfaatkan teknologi digital untuk memantau kondisi kerang di sungai. Kami juga memberikan bantuan kepada petani ikan untuk menjaga kesehatan dan produktivitas kerang mereka," ujarnya.
Nurullah mengatakan, proses penyusuran muara dilakukan dengan cara menyusuri sepanjang 2 kilometer dari titik asal hingga titik tujuan.
"Kami menggunakan alat-alat seperti truk, kantong plastik, dan ember untuk mengangkut dan menyimpan kerang. Kami juga memberikan insentif kepada petani ikan yang berhasil menemukan banyak kerang," katanya.
Nurullah berharap, dengan penyusuran muara ini, masyarakat Sangkulirang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka.
"Kami juga berharap, dengan menyediakan kerang yang berkualitas dan bersertifikat halal, kami dapat meningkatkan daya saing produk ikan lokal kami di pasar," tuturnya.
(Sf/Rs/Adv)