Cari disini...
Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Samarinda
Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso. (Foto: Arsensia Serlyani/Seputarfakta.com)
Samarinda – Upaya mengatasi kemarau panjang dan kekeringan di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai memasuki tahap operasi modifikasi cuaca (OMC), dengan satu pesawat Cessna disiagakan di Bandara APT Pranoto Samarinda dan 60 ton garam disiapkan sebagai bahan semai awan untuk memicu hujan.
Operasi ini dijadwalkan berlangsung 15–19 September 2026 dengan pemantauan potensi awan sepanjang hari. Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan pesawat OMC telah berada di Bandara APT Pranoto sejak Senin (14/9/2026) malam.
Kesiapan armada dan pilot telah dipastikan, sementara tim kini menunggu kemunculan awan yang berpotensi berkembang menjadi hujan.
“Tadi pagi sekitar 60 ton garam dari Danlanud Dhomber juga sudah datang di APT Pranoto. Kemudian dari sisi pilotnya siap, semuanya siap, ”ujar Suwarso, Selasa (15/9/2026).
Menurutnya, pelaksanaan OMC tidak hanya menunggu terbentuknya awan besar. Setiap potensi pembentukan awan yang memungkinkan menghasilkan hujan akan dipantau untuk kemudian dilakukan penyemaian.
Suwarso menyebut perintah Kepala BNPB tegas agar peluang sekecil apa pun tidak dilewatkan. Langkah tersebut dilakukan karena kondisi kekeringan yang terjadi saat ini dinilai lebih berat dibandingkan periode kekeringan sebelumnya.
“Perintah Kepala BNPB jelas, sekecil apapun potensinya, harus tetap dilakukan Operasi Modifikasi Cuaca,” ungkapnya.
Awalnya, penerbangan OMC direncanakan berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 20.00. Namun, terdapat permintaan dari otoritas bandara agar pemantauan potensi awan dilakukan selama 24 jam.
“Ini ada permintaan dari otoritas bandara supaya dilakukan 24 jam pemantauan, di mana ada titik awan yang berpotensi menjadi hujan, maka akan dilakukan OMC,” jelasnya.
Pelaksanaan OMC dijadwalkan mulai 15 hingga 19 September. Periode tersebut dipilih berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menunjukkan adanya peluang pembentukan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
Sebelum OMC disiapkan, penanganan kekeringan di wilayah Samarinda juga telah dilakukan melalui operasi water bombing yang berlangsung sekitar sepekan.
Upaya tersebut menjadi bagian dari penanganan dampak kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.
Suwarso mengatakan pesawat OMC yang disiagakan di Samarinda memiliki cakupan operasi untuk wilayah Kaltim. Pemantauan dilakukan untuk melihat titik-titik pembentukan awan yang berpotensi disemai.
“Rute penerbangan pesawat OMC ini untuk Kaltim. Untuk Kaltim ya. Jadi seluruhnya dipantau,” pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Samarinda

Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso. (Foto: Arsensia Serlyani/Seputarfakta.com)
Samarinda – Upaya mengatasi kemarau panjang dan kekeringan di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai memasuki tahap operasi modifikasi cuaca (OMC), dengan satu pesawat Cessna disiagakan di Bandara APT Pranoto Samarinda dan 60 ton garam disiapkan sebagai bahan semai awan untuk memicu hujan.
Operasi ini dijadwalkan berlangsung 15–19 September 2026 dengan pemantauan potensi awan sepanjang hari. Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan pesawat OMC telah berada di Bandara APT Pranoto sejak Senin (14/9/2026) malam.
Kesiapan armada dan pilot telah dipastikan, sementara tim kini menunggu kemunculan awan yang berpotensi berkembang menjadi hujan.
“Tadi pagi sekitar 60 ton garam dari Danlanud Dhomber juga sudah datang di APT Pranoto. Kemudian dari sisi pilotnya siap, semuanya siap, ”ujar Suwarso, Selasa (15/9/2026).
Menurutnya, pelaksanaan OMC tidak hanya menunggu terbentuknya awan besar. Setiap potensi pembentukan awan yang memungkinkan menghasilkan hujan akan dipantau untuk kemudian dilakukan penyemaian.
Suwarso menyebut perintah Kepala BNPB tegas agar peluang sekecil apa pun tidak dilewatkan. Langkah tersebut dilakukan karena kondisi kekeringan yang terjadi saat ini dinilai lebih berat dibandingkan periode kekeringan sebelumnya.
“Perintah Kepala BNPB jelas, sekecil apapun potensinya, harus tetap dilakukan Operasi Modifikasi Cuaca,” ungkapnya.
Awalnya, penerbangan OMC direncanakan berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 20.00. Namun, terdapat permintaan dari otoritas bandara agar pemantauan potensi awan dilakukan selama 24 jam.
“Ini ada permintaan dari otoritas bandara supaya dilakukan 24 jam pemantauan, di mana ada titik awan yang berpotensi menjadi hujan, maka akan dilakukan OMC,” jelasnya.
Pelaksanaan OMC dijadwalkan mulai 15 hingga 19 September. Periode tersebut dipilih berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menunjukkan adanya peluang pembentukan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
Sebelum OMC disiapkan, penanganan kekeringan di wilayah Samarinda juga telah dilakukan melalui operasi water bombing yang berlangsung sekitar sepekan.
Upaya tersebut menjadi bagian dari penanganan dampak kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.
Suwarso mengatakan pesawat OMC yang disiagakan di Samarinda memiliki cakupan operasi untuk wilayah Kaltim. Pemantauan dilakukan untuk melihat titik-titik pembentukan awan yang berpotensi disemai.
“Rute penerbangan pesawat OMC ini untuk Kaltim. Untuk Kaltim ya. Jadi seluruhnya dipantau,” pungkasnya.
(Sf/Lo)