Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Samarinda

    Pemkot Samarinda Pastikan Stok Pangan Aman, Harga Tetap Terkendali di Tengah Kemarau

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    22 September 2026 pukul 14:34 WITA

    Kepala Disdag Kota Samarinda, Nurrahmani. (Foto: Arsensia Serlyani/seputarfakta.com)

    Samarinda – Pemerintah Kota Samarinda terus menjaga ketersediaan dan stabilitas harga bahan pangan di tengah kondisi kemarau yang berpotensi memengaruhi produksi di sejumlah daerah. 

    Melalui pemantauan harga dan penguatan koordinasi dengan distributor serta Bulog, kebutuhan pangan masyarakat dipastikan tetap tersedia dengan pergerakan harga yang masih dalam batas wajar.

    Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda, Nurrahmani, mengatakan kondisi stok dan harga pangan di Samarinda sejauh ini relatif aman. 

    Samarinda juga tidak termasuk daerah dengan kenaikan harga yang sangat signifikan dalam pemantauan inflasi di Kalimantan Timur.

    "Yang paling penting ini Samarinda sebenarnya menjaga. Pertama, stok barang itu harus ada. Kemudian harga juga tidak, dalam arti ada kenaikan mungkin saya kayak cabai ya, tapi tidak dengan posisi yang tidak masuk akal," ujar Nurrahmani., Selasa (22/9/2026)

    Menurutnya, posisi Samarinda sebagai salah satu pusat distribusi di Kalimantan Timur turut mendukung terjaganya ketersediaan bahan pangan. 

    Meski bukan daerah utama produsen pangan, Samarinda menjadi tempat distribusi bagi sejumlah daerah di sekitarnya.

    "Kenapa juga menarik untuk Samarinda ini tidak produsen tapi barangnya selalu ada? Karena daerah lain juga mengambil di Samarinda. Jadi otomatis distributor pun merasa bahwa hukum ekonominya ada. Artinya ketika barang tersedia, ada pangsanya yang membeli," katanya.

    Kondisi tersebut membuat pemerintah terus memastikan rantai pasok berjalan dengan baik. 

    Selama produksi dari daerah pemasok dan distribusi tetap tersedia, kebutuhan masyarakat Samarinda dinilai dapat terpenuhi.

    Dari sisi stok beras, Disdag juga terus berkoordinasi dengan Bulog. Nurrahmani mengatakan Bulog telah menyampaikan bahwa persediaan beras untuk Samarinda masih aman hingga tiga bulan ke depan.

    "Kalau Bulog, insyaAllah itu kan komunikasi dengan kita, selalu menyampaikan untuk tiga bulan ke depan aman," ungkapnya.

    Selain pasokan dari luar daerah, kebutuhan pangan juga didukung produksi petani lokal. 

    Namun, karena Samarinda bukan wilayah utama penghasil pangan, pasokan dari daerah lain tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kebutuhan masyarakat.

    Salah satu komoditas yang mengalami pergerakan harga adalah cabai. Kondisi tersebut dipengaruhi kemarau yang berdampak terhadap daerah produsen sehingga pasokan harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan berbagai wilayah.

    "Kayak contohnya kemarin cabai, 'Kok mahal Pak?' 'Ya gimana, kekeringan Bu. Produsen kan pasti membagi kepada daerah-daerah yang lain,'" jelas Nurrahmani.

    Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Samarinda turut mendorong gerakan menanam cabai secara mandiri di lingkungan masyarakat.

    Upaya tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus menjadi bagian dari penguatan ketahanan pangan masyarakat.

    "Makanya itu kenapa Pak Wali akhirnya lewat Ketahanan Pangan kemarin kan ada gerakan nanam cabai, diharapkan untuk memenuhi kebutuhan sendiri-sendiri," katanya.

    Pemantauan harga bahan pokok juga dilakukan Disdag secara rutin. Ketika ditemukan kenaikan harga, petugas akan mengecek kondisi di lapangan hingga ke distributor untuk mengetahui faktor yang memengaruhinya.

    Selain cabai, harga telur juga sempat mengalami kenaikan sekitar Rp1.000 per piring. Namun, pergerakan tersebut masih dinilai dalam batas wajar dan belum menunjukkan adanya kelangkaan bahan pangan.

    "Dan harganya pun tidak, maksudnya masih masuk akal lah, enggak di luar nalar," pungkasnya.

    Dengan penguatan pemantauan harga, koordinasi distribusi dan jaminan stok dari Bulog, Pemkot Samarinda terus berupaya menjaga kebutuhan pangan masyarakat tetap tersedia sekaligus mendukung kestabilan harga di tengah kondisi kemarau. 

    (Sf/Rs)

    Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Samarinda

    Pemkot Samarinda Pastikan Stok Pangan Aman, Harga Tetap Terkendali di Tengah Kemarau

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    22 September 2026 pukul 14:34 WITA

    Kepala Disdag Kota Samarinda, Nurrahmani. (Foto: Arsensia Serlyani/seputarfakta.com)

    Samarinda – Pemerintah Kota Samarinda terus menjaga ketersediaan dan stabilitas harga bahan pangan di tengah kondisi kemarau yang berpotensi memengaruhi produksi di sejumlah daerah. 

    Melalui pemantauan harga dan penguatan koordinasi dengan distributor serta Bulog, kebutuhan pangan masyarakat dipastikan tetap tersedia dengan pergerakan harga yang masih dalam batas wajar.

    Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda, Nurrahmani, mengatakan kondisi stok dan harga pangan di Samarinda sejauh ini relatif aman. 

    Samarinda juga tidak termasuk daerah dengan kenaikan harga yang sangat signifikan dalam pemantauan inflasi di Kalimantan Timur.

    "Yang paling penting ini Samarinda sebenarnya menjaga. Pertama, stok barang itu harus ada. Kemudian harga juga tidak, dalam arti ada kenaikan mungkin saya kayak cabai ya, tapi tidak dengan posisi yang tidak masuk akal," ujar Nurrahmani., Selasa (22/9/2026)

    Menurutnya, posisi Samarinda sebagai salah satu pusat distribusi di Kalimantan Timur turut mendukung terjaganya ketersediaan bahan pangan. 

    Meski bukan daerah utama produsen pangan, Samarinda menjadi tempat distribusi bagi sejumlah daerah di sekitarnya.

    "Kenapa juga menarik untuk Samarinda ini tidak produsen tapi barangnya selalu ada? Karena daerah lain juga mengambil di Samarinda. Jadi otomatis distributor pun merasa bahwa hukum ekonominya ada. Artinya ketika barang tersedia, ada pangsanya yang membeli," katanya.

    Kondisi tersebut membuat pemerintah terus memastikan rantai pasok berjalan dengan baik. 

    Selama produksi dari daerah pemasok dan distribusi tetap tersedia, kebutuhan masyarakat Samarinda dinilai dapat terpenuhi.

    Dari sisi stok beras, Disdag juga terus berkoordinasi dengan Bulog. Nurrahmani mengatakan Bulog telah menyampaikan bahwa persediaan beras untuk Samarinda masih aman hingga tiga bulan ke depan.

    "Kalau Bulog, insyaAllah itu kan komunikasi dengan kita, selalu menyampaikan untuk tiga bulan ke depan aman," ungkapnya.

    Selain pasokan dari luar daerah, kebutuhan pangan juga didukung produksi petani lokal. 

    Namun, karena Samarinda bukan wilayah utama penghasil pangan, pasokan dari daerah lain tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kebutuhan masyarakat.

    Salah satu komoditas yang mengalami pergerakan harga adalah cabai. Kondisi tersebut dipengaruhi kemarau yang berdampak terhadap daerah produsen sehingga pasokan harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan berbagai wilayah.

    "Kayak contohnya kemarin cabai, 'Kok mahal Pak?' 'Ya gimana, kekeringan Bu. Produsen kan pasti membagi kepada daerah-daerah yang lain,'" jelas Nurrahmani.

    Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Samarinda turut mendorong gerakan menanam cabai secara mandiri di lingkungan masyarakat.

    Upaya tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus menjadi bagian dari penguatan ketahanan pangan masyarakat.

    "Makanya itu kenapa Pak Wali akhirnya lewat Ketahanan Pangan kemarin kan ada gerakan nanam cabai, diharapkan untuk memenuhi kebutuhan sendiri-sendiri," katanya.

    Pemantauan harga bahan pokok juga dilakukan Disdag secara rutin. Ketika ditemukan kenaikan harga, petugas akan mengecek kondisi di lapangan hingga ke distributor untuk mengetahui faktor yang memengaruhinya.

    Selain cabai, harga telur juga sempat mengalami kenaikan sekitar Rp1.000 per piring. Namun, pergerakan tersebut masih dinilai dalam batas wajar dan belum menunjukkan adanya kelangkaan bahan pangan.

    "Dan harganya pun tidak, maksudnya masih masuk akal lah, enggak di luar nalar," pungkasnya.

    Dengan penguatan pemantauan harga, koordinasi distribusi dan jaminan stok dari Bulog, Pemkot Samarinda terus berupaya menjaga kebutuhan pangan masyarakat tetap tersedia sekaligus mendukung kestabilan harga di tengah kondisi kemarau. 

    (Sf/Rs)