Cari disini...
Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Samarinda
Kepala Dishub Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu. (Foto: Arsensia Serlyani/seputarfakta.com)
Samarinda – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus mematangkan penataan transportasi perkotaan seiring adanya rencana layanan taksi berbasis argometer di Kota Tepian.
Sebelum menentukan rekomendasi armada, Pemkot Samarinda menyiapkan kajian sosial serta perhitungan kebutuhan layanan atau supply-demand agar kehadiran angkutan baru dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi ruas jalan.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu, mengatakan layanan seperti Bluebird masuk dalam kategori angkutan orang tidak dalam trayek.
Karena itu, jumlah armada yang nantinya direkomendasikan perlu dihitung berdasarkan potensi pengguna. “Ini harus dipertimbangkan supply demand-nya yang terkait dengan kebutuhan berapa armada yang bisa kita rekomendasikan,” ujar Manalu, Kamis (24/9/2026).
Ia menjelaskan, arahan Wali Kota Samarinda menjadi dasar bagi Dishub untuk terlebih dahulu melihat dampak sosial serta potensi kebutuhan dan ketersediaan armada sebelum rekomendasi ditetapkan.
“Terkait itu maka tadi arahan dari Pak Wali kita perlu harus ada dulu kajian secara sosial, kemudian kajian potensi supply dan demand,” ungkapnya.
Menurut Manalu, kajian tersebut penting agar layanan transportasi yang nantinya hadir benar-benar memiliki pengguna yang cukup. Pemerintah tidak ingin jumlah armada yang beroperasi jauh melampaui kebutuhan masyarakat.
“Demand masyarakat itu berapa sih, sehingga kita bisa menentukan supply-nya, menentukan armada yang ideal saja,” jelasnya.
Perhitungan itu sekaligus menjadi bagian dari upaya Pemkot Samarinda menjaga keseimbangan antara kebutuhan transportasi dan kapasitas jalan.
Penambahan armada tanpa perhitungan kebutuhan dikhawatirkan justru menambah beban pada ruas jalan.
“Jangan sampai nanti supply-nya lebih banyak daripada demand, akhirnya menambah beban kinerja ruas jalan,” tegasnya.
Saat ini, layanan taksi berbasis argometer belum tersedia secara bebas di ruas jalan Kota Samarinda. Layanan yang ada lebih banyak melayani perjalanan dari Bandara APT Pranoto menuju rumah atau sebaliknya.
“Kalau angkutan taksi argo kan sekarang ini kan yang ada stay di beberapa tempat kan tidak ada. Yang ada hanya dari bandara, Bandara APT ke rumah. Tapi kalau yang sifatnya argo saat ini belum ada,” tutur Manalu.
Ia menyebut Samarinda sebelumnya pernah memiliki layanan taksi berbasis argometer, tetapi kini sudah tidak beroperasi.
“Dulu ada namanya, saya lupa namanya taksi apa, dulu ada tapi sekarang sudah tidak ada lagi,” pungkasnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pembahasan rencana layanan baru. Pemkot ingin setiap keputusan mengenai penambahan angkutan dilakukan berdasarkan kajian teknis dan kondisi transportasi Samarinda.
“Ini harus dipertimbangkan secara teknis dan secara matang,” katanya.
Di sisi lain, penataan layanan taksi tidak menjadi satu-satunya arah pengembangan transportasi Samarinda. Pemkot juga menempatkan ketersediaan angkutan umum atau public transport sebagai bagian dari visi transportasi kota ke depan.
“Untuk visi ke depannya, tersedianya public transport,” kata Manalu.
Menurutnya, angkutan tidak dalam trayek seperti taksi dan Angkutan Sewa Khusus (ASK) memiliki karakteristik berbeda dengan angkutan dalam trayek yang berfungsi sebagai public transport.
“Itu beda, kalau yang angkutan tidak dalam trayek itu bisa bersifat seperti taksi dan ASK, tetapi yang lebih utama adalah angkutan dalam trayek yaitu yang bersifat public transport,” pungkasnya.
Melalui kajian kebutuhan, perhitungan jumlah armada dan pengembangan angkutan umum, Pemkot Samarinda berupaya agar pertumbuhan layanan transportasi berjalan seiring dengan kebutuhan mobilitas masyarakat dan kondisi jaringan jalan kota. (Adv)
(Sf/Lo)
Cari disini...
Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Samarinda

Kepala Dishub Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu. (Foto: Arsensia Serlyani/seputarfakta.com)
Samarinda – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus mematangkan penataan transportasi perkotaan seiring adanya rencana layanan taksi berbasis argometer di Kota Tepian.
Sebelum menentukan rekomendasi armada, Pemkot Samarinda menyiapkan kajian sosial serta perhitungan kebutuhan layanan atau supply-demand agar kehadiran angkutan baru dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi ruas jalan.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu, mengatakan layanan seperti Bluebird masuk dalam kategori angkutan orang tidak dalam trayek.
Karena itu, jumlah armada yang nantinya direkomendasikan perlu dihitung berdasarkan potensi pengguna. “Ini harus dipertimbangkan supply demand-nya yang terkait dengan kebutuhan berapa armada yang bisa kita rekomendasikan,” ujar Manalu, Kamis (24/9/2026).
Ia menjelaskan, arahan Wali Kota Samarinda menjadi dasar bagi Dishub untuk terlebih dahulu melihat dampak sosial serta potensi kebutuhan dan ketersediaan armada sebelum rekomendasi ditetapkan.
“Terkait itu maka tadi arahan dari Pak Wali kita perlu harus ada dulu kajian secara sosial, kemudian kajian potensi supply dan demand,” ungkapnya.
Menurut Manalu, kajian tersebut penting agar layanan transportasi yang nantinya hadir benar-benar memiliki pengguna yang cukup. Pemerintah tidak ingin jumlah armada yang beroperasi jauh melampaui kebutuhan masyarakat.
“Demand masyarakat itu berapa sih, sehingga kita bisa menentukan supply-nya, menentukan armada yang ideal saja,” jelasnya.
Perhitungan itu sekaligus menjadi bagian dari upaya Pemkot Samarinda menjaga keseimbangan antara kebutuhan transportasi dan kapasitas jalan.
Penambahan armada tanpa perhitungan kebutuhan dikhawatirkan justru menambah beban pada ruas jalan.
“Jangan sampai nanti supply-nya lebih banyak daripada demand, akhirnya menambah beban kinerja ruas jalan,” tegasnya.
Saat ini, layanan taksi berbasis argometer belum tersedia secara bebas di ruas jalan Kota Samarinda. Layanan yang ada lebih banyak melayani perjalanan dari Bandara APT Pranoto menuju rumah atau sebaliknya.
“Kalau angkutan taksi argo kan sekarang ini kan yang ada stay di beberapa tempat kan tidak ada. Yang ada hanya dari bandara, Bandara APT ke rumah. Tapi kalau yang sifatnya argo saat ini belum ada,” tutur Manalu.
Ia menyebut Samarinda sebelumnya pernah memiliki layanan taksi berbasis argometer, tetapi kini sudah tidak beroperasi.
“Dulu ada namanya, saya lupa namanya taksi apa, dulu ada tapi sekarang sudah tidak ada lagi,” pungkasnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pembahasan rencana layanan baru. Pemkot ingin setiap keputusan mengenai penambahan angkutan dilakukan berdasarkan kajian teknis dan kondisi transportasi Samarinda.
“Ini harus dipertimbangkan secara teknis dan secara matang,” katanya.
Di sisi lain, penataan layanan taksi tidak menjadi satu-satunya arah pengembangan transportasi Samarinda. Pemkot juga menempatkan ketersediaan angkutan umum atau public transport sebagai bagian dari visi transportasi kota ke depan.
“Untuk visi ke depannya, tersedianya public transport,” kata Manalu.
Menurutnya, angkutan tidak dalam trayek seperti taksi dan Angkutan Sewa Khusus (ASK) memiliki karakteristik berbeda dengan angkutan dalam trayek yang berfungsi sebagai public transport.
“Itu beda, kalau yang angkutan tidak dalam trayek itu bisa bersifat seperti taksi dan ASK, tetapi yang lebih utama adalah angkutan dalam trayek yaitu yang bersifat public transport,” pungkasnya.
Melalui kajian kebutuhan, perhitungan jumlah armada dan pengembangan angkutan umum, Pemkot Samarinda berupaya agar pertumbuhan layanan transportasi berjalan seiring dengan kebutuhan mobilitas masyarakat dan kondisi jaringan jalan kota. (Adv)
(Sf/Lo)