Cari disini...
Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Samarinda
Kepala Disdag Kota Samarinda, Nurrahmani. (Foto: Arsensia Serlyani/Seputarfakta.com)
Samarinda – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus memperkuat langkah menjaga ketersediaan dan keterjangkauan kebutuhan pokok masyarakat di tengah kondisi kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Melalui operasi pasar murah, Pemkot Samarinda telah menjangkau 20 titik dengan menyalurkan 30 ton beras, 800 dus minyak goreng dan 2.000 tabung LPG.
Program tersebut menjadi bagian dari penanganan dampak kekeringan dan karhutla melalui intervensi kebutuhan dasar masyarakat.
Pelaksanaannya dilakukan bertahap dengan memprioritaskan wilayah terdampak sebelum diperluas ke kecamatan lainnya.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda, Nurrahmani, mengatakan operasi pasar murah melibatkan berbagai pihak untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
“Makanya itu kami mengadakan pasar murah, selama 20 titik itu 30 ton beras kami salurkan. Minyak makan 800 dus, kemudian tabung gas juga sebanyak 2.000 tabung. Jadi Insyaallah aman saja untuk Samarinda,” ujar Nurrahmani, Rabu (23/9/2026).
Pada tahap awal, operasi pasar menyasar sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan dan karhutla, seperti Sambutan dan Palaran, serta sebagian wilayah Samarinda Ulu dan Samarinda Utara. Tahap pertama berakhir pada 7 September.
Selanjutnya, tahap kedua dilaksanakan pada 16–19 September dengan memperluas jangkauan ke kecamatan lainnya.
Pelaksanaan dilakukan berdasarkan jadwal yang telah disusun, termasuk di sejumlah lokasi yang mendapat layanan dua kali dalam sehari.
“Sehari dua kali waktu itu kita, karena ada misalnya kalau di Seberang tuh sehari dua kali, pagi sama sore,” ungkapnya.
Pemkot Samarinda juga memastikan distribusi tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu. Setiap kecamatan mendapat porsi layanan melalui dua titik operasi pasar. “Enggak, semua rata. Satu kecamatan dua titik,” kata Nurrahmani.
Upaya menjaga kebutuhan pokok masyarakat tidak hanya dilakukan melalui operasi pasar murah. Disdag Samarinda juga memperkuat distribusi pangan dengan menggandeng Perum Bulog melalui pembentukan jaringan mitra di pasar tradisional.
Mekanisme tersebut diarahkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap komoditas seperti Minyakita dan beras SPHP, sekaligus menjaga harga tetap sesuai ketentuan.
Nurrahmani mengatakan, keberadaan mitra Bulog di pasar menjadi salah satu cara pemerintah menjaga agar komoditas tersebut tidak dijual melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Makanya kalau kegiatan pasar murah atau ada di pasar-pasar, kita cari agen mitranya dia, itu boleh. Nah, seperti itu. Cuma kan ada aturannya bahwa enggak boleh lebih dari HET,” jelasnya.
Sejumlah mitra Bulog telah berjalan di pasar tradisional. Salah satunya berada di Pasar Merdeka, dengan pedagang mitra yang menjual Minyakita dan beras SPHP di tengah aktivitas penjualan sembako.
“Kayak di Pasar Merdeka ada. Makanya kalau dia sembako ada disisip-sisipkan dia jualan Minyakita, dia jualan SPHP,” tuturnya.
Menurut Nurrahmani, pola kemitraan tersebut dibutuhkan agar pemerintah memiliki jalur distribusi yang lebih mudah dikendalikan, terutama dalam menjaga harga komoditas yang mendapat dukungan pemerintah.
“Kenapa harus mitra? Supaya dikendalikan harganya. Jadi kan harganya harus sesuai dengan HET. Kalau di luar mitra kan bisa jualan lebih dari itu,” katanya.
Dari sisi ketersediaan, koordinasi dengan Bulog juga terus dilakukan untuk memastikan pasokan kebutuhan pokok tetap aman. Dalam komunikasi dengan Bulog, Disdag memperoleh informasi bahwa stok untuk kebutuhan hingga tiga bulan ke depan masih tersedia.
“Kalau Bulog, Insyaallah itu kan komunikasi dengan kita, selalu menyampaikan untuk 3 bulan ke depan aman,” pungkas Nurrahmani.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkot Samarinda menjaga stabilitas pasokan dan harga kebutuhan pokok, sekaligus memastikan masyarakat tetap memperoleh akses pangan dan energi rumah tangga di tengah kondisi kekeringan dan karhutla. (Adv)
(Sf/Lo)
Cari disini...
Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Samarinda

Kepala Disdag Kota Samarinda, Nurrahmani. (Foto: Arsensia Serlyani/Seputarfakta.com)
Samarinda – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus memperkuat langkah menjaga ketersediaan dan keterjangkauan kebutuhan pokok masyarakat di tengah kondisi kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Melalui operasi pasar murah, Pemkot Samarinda telah menjangkau 20 titik dengan menyalurkan 30 ton beras, 800 dus minyak goreng dan 2.000 tabung LPG.
Program tersebut menjadi bagian dari penanganan dampak kekeringan dan karhutla melalui intervensi kebutuhan dasar masyarakat.
Pelaksanaannya dilakukan bertahap dengan memprioritaskan wilayah terdampak sebelum diperluas ke kecamatan lainnya.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda, Nurrahmani, mengatakan operasi pasar murah melibatkan berbagai pihak untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
“Makanya itu kami mengadakan pasar murah, selama 20 titik itu 30 ton beras kami salurkan. Minyak makan 800 dus, kemudian tabung gas juga sebanyak 2.000 tabung. Jadi Insyaallah aman saja untuk Samarinda,” ujar Nurrahmani, Rabu (23/9/2026).
Pada tahap awal, operasi pasar menyasar sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan dan karhutla, seperti Sambutan dan Palaran, serta sebagian wilayah Samarinda Ulu dan Samarinda Utara. Tahap pertama berakhir pada 7 September.
Selanjutnya, tahap kedua dilaksanakan pada 16–19 September dengan memperluas jangkauan ke kecamatan lainnya.
Pelaksanaan dilakukan berdasarkan jadwal yang telah disusun, termasuk di sejumlah lokasi yang mendapat layanan dua kali dalam sehari.
“Sehari dua kali waktu itu kita, karena ada misalnya kalau di Seberang tuh sehari dua kali, pagi sama sore,” ungkapnya.
Pemkot Samarinda juga memastikan distribusi tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu. Setiap kecamatan mendapat porsi layanan melalui dua titik operasi pasar. “Enggak, semua rata. Satu kecamatan dua titik,” kata Nurrahmani.
Upaya menjaga kebutuhan pokok masyarakat tidak hanya dilakukan melalui operasi pasar murah. Disdag Samarinda juga memperkuat distribusi pangan dengan menggandeng Perum Bulog melalui pembentukan jaringan mitra di pasar tradisional.
Mekanisme tersebut diarahkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap komoditas seperti Minyakita dan beras SPHP, sekaligus menjaga harga tetap sesuai ketentuan.
Nurrahmani mengatakan, keberadaan mitra Bulog di pasar menjadi salah satu cara pemerintah menjaga agar komoditas tersebut tidak dijual melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Makanya kalau kegiatan pasar murah atau ada di pasar-pasar, kita cari agen mitranya dia, itu boleh. Nah, seperti itu. Cuma kan ada aturannya bahwa enggak boleh lebih dari HET,” jelasnya.
Sejumlah mitra Bulog telah berjalan di pasar tradisional. Salah satunya berada di Pasar Merdeka, dengan pedagang mitra yang menjual Minyakita dan beras SPHP di tengah aktivitas penjualan sembako.
“Kayak di Pasar Merdeka ada. Makanya kalau dia sembako ada disisip-sisipkan dia jualan Minyakita, dia jualan SPHP,” tuturnya.
Menurut Nurrahmani, pola kemitraan tersebut dibutuhkan agar pemerintah memiliki jalur distribusi yang lebih mudah dikendalikan, terutama dalam menjaga harga komoditas yang mendapat dukungan pemerintah.
“Kenapa harus mitra? Supaya dikendalikan harganya. Jadi kan harganya harus sesuai dengan HET. Kalau di luar mitra kan bisa jualan lebih dari itu,” katanya.
Dari sisi ketersediaan, koordinasi dengan Bulog juga terus dilakukan untuk memastikan pasokan kebutuhan pokok tetap aman. Dalam komunikasi dengan Bulog, Disdag memperoleh informasi bahwa stok untuk kebutuhan hingga tiga bulan ke depan masih tersedia.
“Kalau Bulog, Insyaallah itu kan komunikasi dengan kita, selalu menyampaikan untuk 3 bulan ke depan aman,” pungkas Nurrahmani.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkot Samarinda menjaga stabilitas pasokan dan harga kebutuhan pokok, sekaligus memastikan masyarakat tetap memperoleh akses pangan dan energi rumah tangga di tengah kondisi kekeringan dan karhutla. (Adv)
(Sf/Lo)