Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Samarinda

    Hadapi Kemarau, Pemkot Samarinda Pastikan Distribusi Air Bersih Terus Berjalan dan Layani Kebutuhan Warga

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    17 September 2026 pukul 10:10 WITA

    Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso. (Foto: Arsensia Serlyani/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Distribusi air bersih di Kota Samarinda masih menghadapi kendala karena sejumlah instalasi pengolahan air (IPA) milik Perumda Tirta Kencana belum dapat berproduksi selama 24 jam penuh di tengah kebutuhan dasar warga yang meningkat akibat kondisi kemarau. 

    BPBD Samarinda menyebut masih ada sekitar dua IPA yang mengalami gangguan, sementara kebutuhan air bersih terus dipenuhi secara bertahap melalui distribusi ke titik-titik pelayanan umum.

    Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan kondisi pelayanan air bersih menjadi salah satu perhatian dalam penanganan dampak kekeringan. 

    Berdasarkan perkembangan yang disampaikan Perumda Tirta Kencana, sebagian besar IPA telah mengalami perbaikan, namun masih terdapat IPA yang belum mampu beroperasi penuh selama 24 jam.

    “Tapi di sisi lain, kita juga penanganan terhadap distribusi air bersih karena beberapa IPA PDAM di Kota Samarinda tidak berproduksi 24 jam,” ujar Suwarso, Rabu (16/9/2026).

    Menurutnya, kondisi tersebut membuat distribusi air bersih harus dilakukan dengan menyesuaikan kemampuan produksi dan kebutuhan masyarakat. 

    Ia menyebut berdasarkan perkembangan terakhir yang diterima, tinggal sekitar dua IPA yang masih mengalami gangguan dan belum berproduksi selama 24 jam.

    “Walaupun tadi memang Pak Dirut PDAM menyampaikan sudah ada progress baik, ada tinggal sekitar dua IPA yang mengalami gangguan, tidak produksi 24 jam,” ungkapnya.

    Suwarso juga mengapresiasi masukan DPRD Samarinda terkait pelayanan air bersih. 

    Salah satu usulan yang dinilai penting yakni penyampaian pembaruan kondisi layanan secara online setiap hari.

    Menurutnya, informasi tersebut diperlukan agar masyarakat dapat mengetahui perkembangan distribusi air bersih secara langsung, terutama ketika terjadi gangguan pada produksi maupun penyaluran.

    “Untuk distribusi air bersih, itu diminta setiap hari update layanan secara online supaya masyarakat juga memantau,” jelasnya.

    Selain pembaruan informasi layanan, DPRD juga mengusulkan pembangunan sumur artesis dengan kedalaman yang lebih besar sebagai alternatif sumber air saat musim kemarau.

    Suwarso mengatakan sumur tersebut diusulkan menggunakan pipa berukuran besar dan menembus lapisan tanah hingga kedalaman minimal 150 meter. 

    Upaya itu dinilai dapat menjadi salah satu alternatif sumber air ketika sumur dangkal tidak lagi mampu menyediakan air.

    “Kalau sumur yang kedalaman sekitar 40 meter ini sudah tidak ada sumber air lagi, sama aja kering. Makanya disarankan untuk membuat sumur-sumur yang dalam,” katanya.

    Di tengah keterbatasan pasokan, Satgas penanganan kekeringan Samarinda memprioritaskan pemenuhan air bersih untuk kebutuhan dasar masyarakat, khususnya minum dan memasak.

    Namun, Suwarso mengakui distribusi untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK) belum dapat dipenuhi secara menyeluruh karena air yang tersedia harus dibagi ke berbagai titik pelayanan publik.

    “Air bersih itu minum dan masak. Untuk MCK, memang selama ini belum bisa kita penuhi karena kita harus menyuplai banyak pihak,” tuturnya.

    Distribusi air juga diarahkan ke sejumlah fasilitas umum, mulai dari lingkungan RT, masjid, sekolah, tempat ibadah, puskesmas hingga rumah sakit. Fasilitas tersebut menjadi prioritas karena berkaitan langsung dengan pelayanan publik.

    “Bisa di Ketua RT, bisa di masjid, bisa di sekolah, di tempat ibadah, di Puskesmas, rumah sakit, itu kan layanan umum publik yang harus kita penuhi,” pungkasnya.

    Selain keterbatasan produksi, persoalan lain yang menjadi perhatian ialah harga air dari tandon yang dibeli masyarakat dengan biaya relatif mahal. 

    Suwarso menyebut persoalan tersebut akan dibahas lebih lanjut bersama tim untuk mencari langkah pengendalian.

    Sementara itu, pemenuhan air bersih melalui terminal umum akan terus dilakukan secara bertahap. 

    Distribusi tersebut ditujukan untuk kebutuhan masyarakat secara umum, bukan pemenuhan kebutuhan rumah tangga secara individual.

    “Untuk air bersih dalam skala terminal umum, bukan pribadi, bukan rumah tangga, akan kita penuhi secara bertahap,” pungkas Suwarso. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Samarinda

    Hadapi Kemarau, Pemkot Samarinda Pastikan Distribusi Air Bersih Terus Berjalan dan Layani Kebutuhan Warga

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    17 September 2026 pukul 10:10 WITA

    Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso. (Foto: Arsensia Serlyani/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Distribusi air bersih di Kota Samarinda masih menghadapi kendala karena sejumlah instalasi pengolahan air (IPA) milik Perumda Tirta Kencana belum dapat berproduksi selama 24 jam penuh di tengah kebutuhan dasar warga yang meningkat akibat kondisi kemarau. 

    BPBD Samarinda menyebut masih ada sekitar dua IPA yang mengalami gangguan, sementara kebutuhan air bersih terus dipenuhi secara bertahap melalui distribusi ke titik-titik pelayanan umum.

    Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan kondisi pelayanan air bersih menjadi salah satu perhatian dalam penanganan dampak kekeringan. 

    Berdasarkan perkembangan yang disampaikan Perumda Tirta Kencana, sebagian besar IPA telah mengalami perbaikan, namun masih terdapat IPA yang belum mampu beroperasi penuh selama 24 jam.

    “Tapi di sisi lain, kita juga penanganan terhadap distribusi air bersih karena beberapa IPA PDAM di Kota Samarinda tidak berproduksi 24 jam,” ujar Suwarso, Rabu (16/9/2026).

    Menurutnya, kondisi tersebut membuat distribusi air bersih harus dilakukan dengan menyesuaikan kemampuan produksi dan kebutuhan masyarakat. 

    Ia menyebut berdasarkan perkembangan terakhir yang diterima, tinggal sekitar dua IPA yang masih mengalami gangguan dan belum berproduksi selama 24 jam.

    “Walaupun tadi memang Pak Dirut PDAM menyampaikan sudah ada progress baik, ada tinggal sekitar dua IPA yang mengalami gangguan, tidak produksi 24 jam,” ungkapnya.

    Suwarso juga mengapresiasi masukan DPRD Samarinda terkait pelayanan air bersih. 

    Salah satu usulan yang dinilai penting yakni penyampaian pembaruan kondisi layanan secara online setiap hari.

    Menurutnya, informasi tersebut diperlukan agar masyarakat dapat mengetahui perkembangan distribusi air bersih secara langsung, terutama ketika terjadi gangguan pada produksi maupun penyaluran.

    “Untuk distribusi air bersih, itu diminta setiap hari update layanan secara online supaya masyarakat juga memantau,” jelasnya.

    Selain pembaruan informasi layanan, DPRD juga mengusulkan pembangunan sumur artesis dengan kedalaman yang lebih besar sebagai alternatif sumber air saat musim kemarau.

    Suwarso mengatakan sumur tersebut diusulkan menggunakan pipa berukuran besar dan menembus lapisan tanah hingga kedalaman minimal 150 meter. 

    Upaya itu dinilai dapat menjadi salah satu alternatif sumber air ketika sumur dangkal tidak lagi mampu menyediakan air.

    “Kalau sumur yang kedalaman sekitar 40 meter ini sudah tidak ada sumber air lagi, sama aja kering. Makanya disarankan untuk membuat sumur-sumur yang dalam,” katanya.

    Di tengah keterbatasan pasokan, Satgas penanganan kekeringan Samarinda memprioritaskan pemenuhan air bersih untuk kebutuhan dasar masyarakat, khususnya minum dan memasak.

    Namun, Suwarso mengakui distribusi untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK) belum dapat dipenuhi secara menyeluruh karena air yang tersedia harus dibagi ke berbagai titik pelayanan publik.

    “Air bersih itu minum dan masak. Untuk MCK, memang selama ini belum bisa kita penuhi karena kita harus menyuplai banyak pihak,” tuturnya.

    Distribusi air juga diarahkan ke sejumlah fasilitas umum, mulai dari lingkungan RT, masjid, sekolah, tempat ibadah, puskesmas hingga rumah sakit. Fasilitas tersebut menjadi prioritas karena berkaitan langsung dengan pelayanan publik.

    “Bisa di Ketua RT, bisa di masjid, bisa di sekolah, di tempat ibadah, di Puskesmas, rumah sakit, itu kan layanan umum publik yang harus kita penuhi,” pungkasnya.

    Selain keterbatasan produksi, persoalan lain yang menjadi perhatian ialah harga air dari tandon yang dibeli masyarakat dengan biaya relatif mahal. 

    Suwarso menyebut persoalan tersebut akan dibahas lebih lanjut bersama tim untuk mencari langkah pengendalian.

    Sementara itu, pemenuhan air bersih melalui terminal umum akan terus dilakukan secara bertahap. 

    Distribusi tersebut ditujukan untuk kebutuhan masyarakat secara umum, bukan pemenuhan kebutuhan rumah tangga secara individual.

    “Untuk air bersih dalam skala terminal umum, bukan pribadi, bukan rumah tangga, akan kita penuhi secara bertahap,” pungkas Suwarso. (Adv)

    (Sf/Rs)