Cerpen

    Kemenangan

    Penulis:Rusdianto+|Redaktur:Rusdianto
    06 Oktober 2026 pukul 12:46 WITA

    Ilustrasi kemenangan.

    Saat Gandhi bilang "indomitable strength," dalam kutipannya yang terkenal, yang aku tangkap bukan kegigihan sebagaimana yang dimaksud tokoh India itu. Yang kuingat malah Indomie. Halah. 

    Hangat, gurih, akan menjadi sesuatu yang demikian tepat saat hujan. Seperti malam ini.

    Aku duduk di atas kasur, tubuhku terasa berat seperti ada beban tak terlihat. Hujan di luar terdengar monoton, menghasilkan suara aneh yang rasanya seperti menghipnotis. 

     

    Suara tetesan air yang berkelahi dengan genting bercampur dengan rintik halus di jendela kamar bikin suasana semakin lengket dengan kantuk. Aku pengin menyerah. Serius, aku benar-benar ingin nyerah. Kelopak mata sudah seperti diberi lem. Lengket. Badan juga seolah siap menyatu dengan kasur. Tapi perut bagian bawahku memberontak dengan keras.

     

    Sungguh ironi. Tubuh sudah hampir terlelap, tapi kandung kemihku punya agenda lain. Agenda besar. Aku berusaha melawan, mencoba negosiasi dengan pikiran sendiri.

     

    Bisa tahan dulu nggak sih? Nanti kalau udah nggak kuat banget, baru ke kamar mandi. Sekarang tidur dulu aja. Plis. 

     

    Tapi semakin aku coba mengabaikan, semakin mendesak rasanya. Bayangkan balon yang terus diisi udara—rasanya seperti itu di dalam sana.

     

    Aku tarik napas dalam, mengembuskannya pelan dan ulangi. Terus begitu. Udara dingin hujan merembes masuk melalui celah-celah jendela, bikin aku menggigil sedikit. Kain selimut yang sudah setengah aku tarik kembali aku rengkuh dengan erat. Kantukku sekarang bercampur dengan kekesalan.

     

    “Aku bisa tahan ini,” gumamku pada diri sendiri, mencoba menenangkan hati yang gelisah. Hingga tiba-tiba teringat ucapan Winston Churchill; “If you're going through hell, keep going.”  

     

    Churchill benar, mungkin aku harus terus berjalan, tapi godaan kasur yang hangat itu terlalu nyata. Aku melongok malas pintu kamar dengan tatapan penuh keraguan, membayangkan perjalanan menuju kamar mandi seperti invasi besar-besaran. Penuh ranjau dan jebakan. 

     

    Aku mencoba negosiasi sekali lagi dengan diriku sendiri. Apa aku segampang itu menyerah? Padahal Sun Tzu pernah berkata, ‘Dalam setiap pertempuran, kemenangan ditentukan oleh persiapan.’ Tapi kali ini aku tidak siap. Bahkan tanpa kaus kaki, aku seperti pasukan tanpa senjata.

     

    Aku memejamkan mata lagi, mencoba mencari posisi nyaman, berharap rasa ini bisa sedikit berkurang. Aku mencoba teknik lama: bernapas perlahan, membayangkan diriku sedang berada di pantai. Tapi bukannya ketenangan yang kudapat, suara ombak imajiner di kepalaku malah memperparah desakan di area bawah perut ini.

     

    Di tengah kebimbangan ini, kata-kata Julius Caesar melintas di pikiran. “Veni, vidi, vici.” Tapi bagaimana aku bisa datang, melihat, dan menaklukkan jika aku bahkan tak sanggup melangkah keluar dari selimut?

     

    Dengan berat hati, aku mengangkat tubuh dari kasur. Selimutku melorot ke bawah, udara dingin langsung menyergap kulitku seperti pedang dingin musuh. Kakiku menyentuh lantai, dan benar saja, dinginnya seperti es batu. Aku menahan napas, mencoba melangkah perlahan-lahan ke pintu.

     

    “Bangunlah, bodoh. Kalau nggak, perutmu bisa pecah. Atau kamu malah ngompol. Itu jauh lebih parah,” gumamku, setengah menyemangati diri. Kali ini aku membayangkan diriku adalah seorang prajurit Spartan yang mendengar panggilan perang dari Leonidas: “Molon labe!” Datang dan ambil. Tapi yang datang dan mendesak ini adalah kebutuhan biologis, bukan pasukan Persia.

     

    Aku membuka pintu kamar dan melangkah ke lorong. Angin dingin dari luar semakin membuat tubuhku menggigil. Dalam pikiran, aku seperti mendengar bisikan Napoleon “Tidak mungkin adalah kata yang ditemukan dalam kamus orang bodoh.” Tidak ada yang tidak mungkin, termasuk aku melawan rasa malas ini.

     

    Setiap langkah menuju kamar mandi adalah perjuangan. Suara hujan menjadi latar yang membungkus malam ini dengan suasana dramatis. Di ujung lorong, pintu kamar mandi terlihat seperti pintu kemenangan. Aku berusaha menguatkan diri dengan mengingat ungkapan Theodore Roosevelt “Do what you can, with what you have, where you are.”

     

    Begitu sampai di kamar mandi, aku membuka pintu dan menyalakan lampu. Lampu neon berkedip-kedip seperti ingin menguji kesabaranku. Tapi saat itu, aku sudah tak peduli. Aku menyelesaikan urusanku secepat mungkin, suara air mengalir dari toilet adalah musik kemenangan yang membawa rasa lega luar biasa.

     

    Ketika aku kembali ke kamar, segera kurengkub kehangatan selimut itu lagi. Aku menatap langit-langit, mendengarkan suara hujan yang belum juga pergi. Aku tersenyum kecil, dan kembali teringat Gandhi. “Strength does not come from physical capacity. It comes from an indomitable will.” 

     

    Tidak, tidak. Kali ini bukan Indomie yang aku bayangkan. Malam ini, aku telah menaklukkan diriku sendiri, dan itu adalah kemenangan terbesar. 

     

    Samarinda, Rabu 15 Januari 2025

    Cerpen

    Kemenangan

    Penulis:Rusdianto|Redaktur:Rusdianto
    06 Oktober 2026 pukul 12:46 WITA

    Ilustrasi kemenangan.

    Saat Gandhi bilang "indomitable strength," dalam kutipannya yang terkenal, yang aku tangkap bukan kegigihan sebagaimana yang dimaksud tokoh India itu. Yang kuingat malah Indomie. Halah. 

    Hangat, gurih, akan menjadi sesuatu yang demikian tepat saat hujan. Seperti malam ini.

    Aku duduk di atas kasur, tubuhku terasa berat seperti ada beban tak terlihat. Hujan di luar terdengar monoton, menghasilkan suara aneh yang rasanya seperti menghipnotis. 

     

    Suara tetesan air yang berkelahi dengan genting bercampur dengan rintik halus di jendela kamar bikin suasana semakin lengket dengan kantuk. Aku pengin menyerah. Serius, aku benar-benar ingin nyerah. Kelopak mata sudah seperti diberi lem. Lengket. Badan juga seolah siap menyatu dengan kasur. Tapi perut bagian bawahku memberontak dengan keras.

     

    Sungguh ironi. Tubuh sudah hampir terlelap, tapi kandung kemihku punya agenda lain. Agenda besar. Aku berusaha melawan, mencoba negosiasi dengan pikiran sendiri.

     

    Bisa tahan dulu nggak sih? Nanti kalau udah nggak kuat banget, baru ke kamar mandi. Sekarang tidur dulu aja. Plis. 

     

    Tapi semakin aku coba mengabaikan, semakin mendesak rasanya. Bayangkan balon yang terus diisi udara—rasanya seperti itu di dalam sana.

     

    Aku tarik napas dalam, mengembuskannya pelan dan ulangi. Terus begitu. Udara dingin hujan merembes masuk melalui celah-celah jendela, bikin aku menggigil sedikit. Kain selimut yang sudah setengah aku tarik kembali aku rengkuh dengan erat. Kantukku sekarang bercampur dengan kekesalan.

     

    “Aku bisa tahan ini,” gumamku pada diri sendiri, mencoba menenangkan hati yang gelisah. Hingga tiba-tiba teringat ucapan Winston Churchill; “If you're going through hell, keep going.”  

     

    Churchill benar, mungkin aku harus terus berjalan, tapi godaan kasur yang hangat itu terlalu nyata. Aku melongok malas pintu kamar dengan tatapan penuh keraguan, membayangkan perjalanan menuju kamar mandi seperti invasi besar-besaran. Penuh ranjau dan jebakan. 

     

    Aku mencoba negosiasi sekali lagi dengan diriku sendiri. Apa aku segampang itu menyerah? Padahal Sun Tzu pernah berkata, ‘Dalam setiap pertempuran, kemenangan ditentukan oleh persiapan.’ Tapi kali ini aku tidak siap. Bahkan tanpa kaus kaki, aku seperti pasukan tanpa senjata.

     

    Aku memejamkan mata lagi, mencoba mencari posisi nyaman, berharap rasa ini bisa sedikit berkurang. Aku mencoba teknik lama: bernapas perlahan, membayangkan diriku sedang berada di pantai. Tapi bukannya ketenangan yang kudapat, suara ombak imajiner di kepalaku malah memperparah desakan di area bawah perut ini.

     

    Di tengah kebimbangan ini, kata-kata Julius Caesar melintas di pikiran. “Veni, vidi, vici.” Tapi bagaimana aku bisa datang, melihat, dan menaklukkan jika aku bahkan tak sanggup melangkah keluar dari selimut?

     

    Dengan berat hati, aku mengangkat tubuh dari kasur. Selimutku melorot ke bawah, udara dingin langsung menyergap kulitku seperti pedang dingin musuh. Kakiku menyentuh lantai, dan benar saja, dinginnya seperti es batu. Aku menahan napas, mencoba melangkah perlahan-lahan ke pintu.

     

    “Bangunlah, bodoh. Kalau nggak, perutmu bisa pecah. Atau kamu malah ngompol. Itu jauh lebih parah,” gumamku, setengah menyemangati diri. Kali ini aku membayangkan diriku adalah seorang prajurit Spartan yang mendengar panggilan perang dari Leonidas: “Molon labe!” Datang dan ambil. Tapi yang datang dan mendesak ini adalah kebutuhan biologis, bukan pasukan Persia.

     

    Aku membuka pintu kamar dan melangkah ke lorong. Angin dingin dari luar semakin membuat tubuhku menggigil. Dalam pikiran, aku seperti mendengar bisikan Napoleon “Tidak mungkin adalah kata yang ditemukan dalam kamus orang bodoh.” Tidak ada yang tidak mungkin, termasuk aku melawan rasa malas ini.

     

    Setiap langkah menuju kamar mandi adalah perjuangan. Suara hujan menjadi latar yang membungkus malam ini dengan suasana dramatis. Di ujung lorong, pintu kamar mandi terlihat seperti pintu kemenangan. Aku berusaha menguatkan diri dengan mengingat ungkapan Theodore Roosevelt “Do what you can, with what you have, where you are.”

     

    Begitu sampai di kamar mandi, aku membuka pintu dan menyalakan lampu. Lampu neon berkedip-kedip seperti ingin menguji kesabaranku. Tapi saat itu, aku sudah tak peduli. Aku menyelesaikan urusanku secepat mungkin, suara air mengalir dari toilet adalah musik kemenangan yang membawa rasa lega luar biasa.

     

    Ketika aku kembali ke kamar, segera kurengkub kehangatan selimut itu lagi. Aku menatap langit-langit, mendengarkan suara hujan yang belum juga pergi. Aku tersenyum kecil, dan kembali teringat Gandhi. “Strength does not come from physical capacity. It comes from an indomitable will.” 

     

    Tidak, tidak. Kali ini bukan Indomie yang aku bayangkan. Malam ini, aku telah menaklukkan diriku sendiri, dan itu adalah kemenangan terbesar. 

     

    Samarinda, Rabu 15 Januari 2025