Cari disini...
Advertorial
Dirut PT BKS, Nidya Listiyono. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Janji PT Bara Kaltim Sejahtera (BKS) untuk tidak sekadar duduk manis mengandalkan pendapatan pasif mulai dibuktikan.
Setelah tahun lalu menegaskan tidak akan meminta suntikan modal dari APBD Pemprov Kaltim untuk berekspansi, BUMD tersebut kini resmi bertransformasi menjadi holding company dan mulai merambah sektor bisnis di luar batu bara.
Tahun lalu, Direktur Utama PT BKS, Nidya Listiyono dengan tegas menyatakan bahwa modal internal dari pendapatan dividen yang mencapai Rp70-80 miliar per tahun sudah sangat cukup untuk memutar roda bisnis baru. Kini, di tahun 2026, langkah strategis tersebut mulai terwujud.
"Pertama, seperti yang kami sampaikan di awal, pada tahun 2026 ini perubahan bentuk badan hukum menjadi PT sudah selesai. Kami kini telah bertransformasi menjadi holding company," ungkap Nidya.
Sebagai holding, BKS tidak lagi hanya terpaku pada sektor batu bara yang selama ini menjadi andalan lewat kepemilikan saham di PT Mahakam Sumber Jaya (MSJ).
Tingginya fluktuasi pasar menjadi alasan utama perusahaan plat merah ini melakukan manuver bisnis atau shifting.
Nidya memaparkan, tingginya biaya produksi batu bara akibat kenaikan harga solar memaksa BKS untuk melirik potensi sumber daya alam Kaltim lainnya.
"Kita harus mulai shifting dari batu bara dan menggarap mineral-mineral bukan logam lainnya di Kalimantan Timur yang punya potensi luar biasa. Bara Kaltim tentu harus ikut ambil bagian di sana," jelasnya.
Langkah konkret yang sedang diupayakan saat ini adalah masuk ke ranah pengelolaan galian C, pasir, hingga pasir silika. Untuk memuluskan langkah tersebut, BKS telah menjalin komunikasi intensif dengan berbagai pengusaha, termasuk pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B).
Selain sektor pertambangan non-logam, BKS juga tengah menyiapkan proyek infrastruktur strategis berupa pembangunan Pelabuhan Bongkar Muat. Fasilitas ini nantinya ditargetkan menjadi salah satu aset utama perusahaan.
"Mungkin akan ada Pelabuhan Bongkar Muat yang saat ini sedang kami desain, agar nantinya bisa dimiliki sendiri atau dikerjasamakan dengan BKS. Lokasi pastinya belum tahu, tapi yang jelas di sepanjang Sungai Mahakam. Kami akan melihat titik mana yang bisa kita maksimalkan," bebernya.
Rencana agresif ini sejalan dengan persiapan legalitas perusahaan. Jika tahun lalu BKS masih berkutat pada target memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) sendiri, kini secara kelembagaan mereka telah siap secara penuh.
"Sebelumnya KBLI kami adalah kepemilikan IUP. Ke depannya, kalaupun kami mendapatkan IUP, kami sudah memiliki anak-anak perusahaan untuk mengelolanya, karena posisi BKS sekarang adalah holding," pungkasnya.*
(Sf/Lo)
Cari disini...
Advertorial

Dirut PT BKS, Nidya Listiyono. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Janji PT Bara Kaltim Sejahtera (BKS) untuk tidak sekadar duduk manis mengandalkan pendapatan pasif mulai dibuktikan.
Setelah tahun lalu menegaskan tidak akan meminta suntikan modal dari APBD Pemprov Kaltim untuk berekspansi, BUMD tersebut kini resmi bertransformasi menjadi holding company dan mulai merambah sektor bisnis di luar batu bara.
Tahun lalu, Direktur Utama PT BKS, Nidya Listiyono dengan tegas menyatakan bahwa modal internal dari pendapatan dividen yang mencapai Rp70-80 miliar per tahun sudah sangat cukup untuk memutar roda bisnis baru. Kini, di tahun 2026, langkah strategis tersebut mulai terwujud.
"Pertama, seperti yang kami sampaikan di awal, pada tahun 2026 ini perubahan bentuk badan hukum menjadi PT sudah selesai. Kami kini telah bertransformasi menjadi holding company," ungkap Nidya.
Sebagai holding, BKS tidak lagi hanya terpaku pada sektor batu bara yang selama ini menjadi andalan lewat kepemilikan saham di PT Mahakam Sumber Jaya (MSJ).
Tingginya fluktuasi pasar menjadi alasan utama perusahaan plat merah ini melakukan manuver bisnis atau shifting.
Nidya memaparkan, tingginya biaya produksi batu bara akibat kenaikan harga solar memaksa BKS untuk melirik potensi sumber daya alam Kaltim lainnya.
"Kita harus mulai shifting dari batu bara dan menggarap mineral-mineral bukan logam lainnya di Kalimantan Timur yang punya potensi luar biasa. Bara Kaltim tentu harus ikut ambil bagian di sana," jelasnya.
Langkah konkret yang sedang diupayakan saat ini adalah masuk ke ranah pengelolaan galian C, pasir, hingga pasir silika. Untuk memuluskan langkah tersebut, BKS telah menjalin komunikasi intensif dengan berbagai pengusaha, termasuk pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B).
Selain sektor pertambangan non-logam, BKS juga tengah menyiapkan proyek infrastruktur strategis berupa pembangunan Pelabuhan Bongkar Muat. Fasilitas ini nantinya ditargetkan menjadi salah satu aset utama perusahaan.
"Mungkin akan ada Pelabuhan Bongkar Muat yang saat ini sedang kami desain, agar nantinya bisa dimiliki sendiri atau dikerjasamakan dengan BKS. Lokasi pastinya belum tahu, tapi yang jelas di sepanjang Sungai Mahakam. Kami akan melihat titik mana yang bisa kita maksimalkan," bebernya.
Rencana agresif ini sejalan dengan persiapan legalitas perusahaan. Jika tahun lalu BKS masih berkutat pada target memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) sendiri, kini secara kelembagaan mereka telah siap secara penuh.
"Sebelumnya KBLI kami adalah kepemilikan IUP. Ke depannya, kalaupun kami mendapatkan IUP, kami sudah memiliki anak-anak perusahaan untuk mengelolanya, karena posisi BKS sekarang adalah holding," pungkasnya.*
(Sf/Lo)