Advertorial

    Rusmadi Nilai Partisipasi Pilkada Samarinda 2024 Masih Rendah, Begini Penjelasan KPU

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    03 Desember 2024 pukul 15:47 WITA

    Pelaksanaan PSU di TPS 001 Kelurahan Bugis, Kecamatan Samarinda Kota pada 2 Desember kemarin yang partisipasinya menurun dibanding dengan pelaksanaan pemungutan suara serentak 27 November lalu. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda —Pilkada Serentak 2024 di Samarinda telah melewati tahap pemungutan suara, dan meskipun hasil rekapitulasi resmi belum diumumkan, sorotan utama justru tertuju pada rendahnya tingkat partisipasi masyarakat. 

    Meski ada peningkatan tipis dibandingkan Pilkada 2020 yang hanya mencatat partisipasi 52,26 persen, Wakil Wali Kota Samarinda, Rusmadi, mengakui angka partisipasi tahun ini, sekitar 59 persen, masih jauh dari harapan. 

    "Kita bersyukur ada kenaikan, tetapi kenaikannya terlalu kecil. Ini menjadi tantangan besar ke depan," ujar Rusmadi, di Hotel Harris Samarinda, Senin (2/12/2024). 

    Kondisi ini memunculkan pertanyaan apa yang membuat warga Samarinda enggan berpartisipasi. Padahal, pemerintah kota, Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) telah menggencarkan sosialisasi hingga ke tingkat kelurahan juga sekolah-sekolah. Namun, hasilnya tetap belum signifikan.  

    Kemudian, didasarkan data yang didapat dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Danny JA, tercatat hanya 54,95 persen warga yang menggunakan hak pilihnya. Hasil itu diperoleh dari 200 TPS yang menjadi sampel dalam survei.  

    Peristiwa ini menurutnya menjadi alarm bahwa demokrasi bukan hanya tentang prosedur, tetapi juga tentang bagaimana membuat masyarakat merasa terlibat dan percaya pada prosesnya.

    Hal ini menurut orang nomor dua di Samarinda itu sangat berkesinambungan dengan kemajuan Samarinda. Apalagi, indikator dari kemajuan sebuah daerah, sebut Rusmadi, apabila partisipasi masyarakat dalam pesta demokrasi sudah menuju 100 persen. 

    "Ini masih harus ditingkatkan lagi," tegasnya. 

    Sementara itu, Komisioner KPU Samarinda, Arif Rakhman, menyebut bahwa tingkat partisipasi resmi baru akan diumumkan setelah rekapitulasi selesai pada 4-6 Desember. Namun, ia tidak menampik pentingnya evaluasi mendalam terhadap penyelenggaraan Pilkada tahun ini.  

    Hasil partisipasi masyarakat pilkada ini dapat menjadi indikator adanya kesenjangan antara harapan masyarakat dan upaya penyelenggara. Nantinya, evaluasi menyeluruh, termasuk pendekatan kampanye yang lebih inovatif dan penyampaian visi calon pemimpin yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, menjadi hal yang mendesak untuk menghindari rendahnya partisipasi masyarakat dalam tiap pemilihan di Samarinda.  

    "Kami masih belum bisa melihat partisipasi meningkat atau tidak karena belum rapat pleno untuk hasilnya," singkat Arif. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Advertorial

    Rusmadi Nilai Partisipasi Pilkada Samarinda 2024 Masih Rendah, Begini Penjelasan KPU

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    03 Desember 2024 pukul 15:47 WITA

    Pelaksanaan PSU di TPS 001 Kelurahan Bugis, Kecamatan Samarinda Kota pada 2 Desember kemarin yang partisipasinya menurun dibanding dengan pelaksanaan pemungutan suara serentak 27 November lalu. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda —Pilkada Serentak 2024 di Samarinda telah melewati tahap pemungutan suara, dan meskipun hasil rekapitulasi resmi belum diumumkan, sorotan utama justru tertuju pada rendahnya tingkat partisipasi masyarakat. 

    Meski ada peningkatan tipis dibandingkan Pilkada 2020 yang hanya mencatat partisipasi 52,26 persen, Wakil Wali Kota Samarinda, Rusmadi, mengakui angka partisipasi tahun ini, sekitar 59 persen, masih jauh dari harapan. 

    "Kita bersyukur ada kenaikan, tetapi kenaikannya terlalu kecil. Ini menjadi tantangan besar ke depan," ujar Rusmadi, di Hotel Harris Samarinda, Senin (2/12/2024). 

    Kondisi ini memunculkan pertanyaan apa yang membuat warga Samarinda enggan berpartisipasi. Padahal, pemerintah kota, Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) telah menggencarkan sosialisasi hingga ke tingkat kelurahan juga sekolah-sekolah. Namun, hasilnya tetap belum signifikan.  

    Kemudian, didasarkan data yang didapat dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Danny JA, tercatat hanya 54,95 persen warga yang menggunakan hak pilihnya. Hasil itu diperoleh dari 200 TPS yang menjadi sampel dalam survei.  

    Peristiwa ini menurutnya menjadi alarm bahwa demokrasi bukan hanya tentang prosedur, tetapi juga tentang bagaimana membuat masyarakat merasa terlibat dan percaya pada prosesnya.

    Hal ini menurut orang nomor dua di Samarinda itu sangat berkesinambungan dengan kemajuan Samarinda. Apalagi, indikator dari kemajuan sebuah daerah, sebut Rusmadi, apabila partisipasi masyarakat dalam pesta demokrasi sudah menuju 100 persen. 

    "Ini masih harus ditingkatkan lagi," tegasnya. 

    Sementara itu, Komisioner KPU Samarinda, Arif Rakhman, menyebut bahwa tingkat partisipasi resmi baru akan diumumkan setelah rekapitulasi selesai pada 4-6 Desember. Namun, ia tidak menampik pentingnya evaluasi mendalam terhadap penyelenggaraan Pilkada tahun ini.  

    Hasil partisipasi masyarakat pilkada ini dapat menjadi indikator adanya kesenjangan antara harapan masyarakat dan upaya penyelenggara. Nantinya, evaluasi menyeluruh, termasuk pendekatan kampanye yang lebih inovatif dan penyampaian visi calon pemimpin yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, menjadi hal yang mendesak untuk menghindari rendahnya partisipasi masyarakat dalam tiap pemilihan di Samarinda.  

    "Kami masih belum bisa melihat partisipasi meningkat atau tidak karena belum rapat pleno untuk hasilnya," singkat Arif. (Adv)

    (Sf/Rs)