Cari disini...
Advertorial
Ketua Bawaslu Kaltim, Hari Dermanto. (Foto: Dokumentasi Bawaslu Kaltim/Seputarfakta.com)
Samarinda - Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kalimantan Timur (Kaltim), Hari Dermanto menyoroti pentingnya peran generasi milenial dan Gen Z dalam Pilkada, khususnya terkait penyebaran informasi yang akurat.
Menurutnya, di tengah tingginya kontestasi politik dalam Pilkada, tidak jarang tim pemenangan berusaha menyebarkan informasi yang tidak sepenuhnya benar. Hal ini menjadi tantangan bagi pemilih untuk memastikan bahwa sumber informasi yang mereka terima valid.
"Sering sekali, karena tingginya kontestasi politik, ada upaya untuk menyebarluaskan informasi yang bisa jadi tidak utuh. Dalam situasi seperti itu, sumber informasi yang benar adalah penyelenggara pemilu," ujar Hari belum lama ini.
Ia ingin setiap informasi publik yang diterima masyarakat, apalagi yang menimbulkan keresahan harus dikonfirmasi ke penyelenggara Pilkada yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Lebih lanjut, ia mengapresiasi tingginya aktivitas generasi milenial dan Gen Z di media sosial. Menurutnya, hal ini menandakan bahwa mereka memiliki akses terhadap berbagai informasi. Namun, yang perlu dipertajam adalah kualitas informasi yang mereka terima, terutama dalam konteks Pilkada.
"Harapan kami, mereka bisa memilah dan memastikan informasi yang mereka sebarkan maupun konsumsi berasal dari sumber yang valid," tambahnya.
Hal ini berkaitan dengan potensi kerawanan selama masa masa Pilkada, utamanya terkait dengan penyebaran berita bohong (hoax) dan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Menurutnya banyak masyarakat yang dipengaruhi oleh sentimen-sentimen tertentu, baik itu berdasarkan agama, suku, pendidikan, atau bahkan informasi hoax.
"Kita melihat banyak orang yang digerakkan untuk memilih karena sentimen tersebut. Kami berharap bahwa kehadiran pemilih milenial dan Gen Z yang cukup banyak, bisa meningkatkan kualitas pemilih," jelasnya.
Apalagi ia menilai pemilih milenial dan Gen Z ini memiliki kesadaran dan kekayaan informasi yang baik. Namun tetap perlu diarahkan untuk memperoleh informasi yang tepat dari penyelenggara pemilihan.
Dari kesadaran terhadap informasi yang benar itu ia berharap juga diikuti dengan keberanian untuk melapor jika menemukan pelanggaran selama proses Pilkada.
"Mereka bisa menjadi sumber informasi bagi kami terkait dugaan pelanggaran yang terjadi," tutupnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...
Advertorial

Ketua Bawaslu Kaltim, Hari Dermanto. (Foto: Dokumentasi Bawaslu Kaltim/Seputarfakta.com)
Samarinda - Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kalimantan Timur (Kaltim), Hari Dermanto menyoroti pentingnya peran generasi milenial dan Gen Z dalam Pilkada, khususnya terkait penyebaran informasi yang akurat.
Menurutnya, di tengah tingginya kontestasi politik dalam Pilkada, tidak jarang tim pemenangan berusaha menyebarkan informasi yang tidak sepenuhnya benar. Hal ini menjadi tantangan bagi pemilih untuk memastikan bahwa sumber informasi yang mereka terima valid.
"Sering sekali, karena tingginya kontestasi politik, ada upaya untuk menyebarluaskan informasi yang bisa jadi tidak utuh. Dalam situasi seperti itu, sumber informasi yang benar adalah penyelenggara pemilu," ujar Hari belum lama ini.
Ia ingin setiap informasi publik yang diterima masyarakat, apalagi yang menimbulkan keresahan harus dikonfirmasi ke penyelenggara Pilkada yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Lebih lanjut, ia mengapresiasi tingginya aktivitas generasi milenial dan Gen Z di media sosial. Menurutnya, hal ini menandakan bahwa mereka memiliki akses terhadap berbagai informasi. Namun, yang perlu dipertajam adalah kualitas informasi yang mereka terima, terutama dalam konteks Pilkada.
"Harapan kami, mereka bisa memilah dan memastikan informasi yang mereka sebarkan maupun konsumsi berasal dari sumber yang valid," tambahnya.
Hal ini berkaitan dengan potensi kerawanan selama masa masa Pilkada, utamanya terkait dengan penyebaran berita bohong (hoax) dan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Menurutnya banyak masyarakat yang dipengaruhi oleh sentimen-sentimen tertentu, baik itu berdasarkan agama, suku, pendidikan, atau bahkan informasi hoax.
"Kita melihat banyak orang yang digerakkan untuk memilih karena sentimen tersebut. Kami berharap bahwa kehadiran pemilih milenial dan Gen Z yang cukup banyak, bisa meningkatkan kualitas pemilih," jelasnya.
Apalagi ia menilai pemilih milenial dan Gen Z ini memiliki kesadaran dan kekayaan informasi yang baik. Namun tetap perlu diarahkan untuk memperoleh informasi yang tepat dari penyelenggara pemilihan.
Dari kesadaran terhadap informasi yang benar itu ia berharap juga diikuti dengan keberanian untuk melapor jika menemukan pelanggaran selama proses Pilkada.
"Mereka bisa menjadi sumber informasi bagi kami terkait dugaan pelanggaran yang terjadi," tutupnya. (Adv)
(Sf/Rs)